Deflasi April 2016, Rekor Sejak Tahun 1999

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,45% pada April 2016. Deflasi didorong oleh penurunan harga sejumlah produk yang diatur pemerintah sebesar 0,33% sementara inflasi inti tercatat 0,15%. Selama April 2016, komponen harga bergejolak juga mengalami deflasi sebesar 0,22%.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, deflasi pada April 2016 merupakan deflasi tertinggi sejak April 2000. Menurut catatan BPS, deflasi April tahun ini hanya kalah dibanding April 1999 yang mengalami deflasi 0,68%. “Ini menunjukkan perkembangan harga komoditi bahan pokok terkendali,”katanya, Senin (2/5).

Bahan makanan menyumbang penurunan harga atau deflasi terbesar pada bulan April 2016. Berdasarkan kelompok pengeluaran, bahan makanan mengalami deflasi 0,94%. Sementara kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau inflasi 0,35% dan kelompok perumahan, air listrik, gas dan bahan bakar deflasi 0,13%.

Lalu kelompok sandang mengalami inflasi 0,22%, kelompok kesehatan inflasi 0,31%, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami inflasi 0,03% dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi tinggi 1,6%.

Deflasi April 2016 terjadi seiring tuunnya harga bahan bakar minyak (BBM) dan tariff dasar listrik (TDL). Sehingga, memangkas harga sejumlah bahan makanan dan tariff transportasi. Beberapa komoditas yang turun harga adalah cabai merah, beras, ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, kentang, tariff angkutan, kacang panjang dan sawi hijau. Sementara yang harganya naik bawang merah, tomat, bawang putih, wortel, apel, jeruk, papaya, minyak goring, rokok, dan kontrak rumah.

Inflasi Mei Naik

Seperti diketahui, tren penurunan harga minyak mentah dunia telah memangkas harga jual BBM dan tariff listrik. PT Pertamina menurunkan harga BBM jenis Petralite dan Pertamax pada 1 Maret 2016 dan 30 Maret 2016. Sementara solar dan Premium diturunkan mulai 1 April 2016. PLN juga menurunkan TDL pada Maret 2016 dan April 2016 untuk 12 golongna tariff.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo memperkirakan, inflasi rendah masih berlanjut paa Mei 2016. “Masih aman sampai menjelang bulan Ramadhan,” katanya. Memasuki bulan puasa, komoditas bahan makanan yang dikhawatirkan mengalami kenaikan harga adalah beras, daging ayam, dan cabai. Oleh karena itu pemerintah harus memastikan suplai cukup agar harganya tidak bergejolak.

Akibat mulai dekat dengan puasa dan lebaran, ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih yakin pada Mei 2016 akan terjadi inflasi. Apalagi Juli 2016 tak hanya puasa, tetapi juga tahun ajaran baru yang menjadi faktor pemicu inflasi. Dia memproyeksi, inflasi Mei ini merangkak sekitar 0,4%-0,6%. Sementara inflasi di bulan puasa bisa mencapai 1%. “Agustus turun lagi,” katanya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, pemerintah perlu memberikan perhatian khusus terhadap bahan makanan sensitif, seperti daging dan bumbu-bumbuan.

Ekonom Maybank Juniman juga memproyeksikan, inflasi akan terjadi sejakMei hingga Agustus. Mei akan terjadi inflasi 0,5%, Juni 0,9%, Juli 0,5%. “Inflasi Agustus semakin menurun,”katanya.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: