Wajib Lapor Transaksi Mencurigakan Tak Jalan

Aturan kewajiban pelaporan transaksi mencurigakan dinilai tak sinkron dengan aturan profesi

JAKARTA. Implementasi kewajiban pelaporan transaksi mencurigakan bagi profesi dan pengusaha yang berlaku sejak pertengahan tahun lalu ternyata tak berjalan. Sebab, hingga kini masih ada hambatan yang mengganjal implementasi kewajiban ini.

Wakil Kepala Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso mengatakan, kewajiban pelaporan transaksi keuangan mencurigakan bagi profesi belum berjalan baik lantaran hingga kini masih ada keberatan dari sejumlah asosiasi profesi. Menurutnya, salah satu asosiasi profesi yang keberatan dengan beleid ini adalah asosiasi pengacara.

Selain pengacara, kata Agus, kalangan notaris juga masih resisten dengan kewajiban ini. “Asosiasi notaris masih merasa itu bertentangan dengan Undang-Undang (UU) tentang Jabatan Notaris,” kata Agus, kepada KONTAN, Rabu (11/5).

UU nomor 2/2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 30/2004 tentang Jabaran Notaris menyebutkan bahwa notaris hanya dapat memberikan, memperlihatkan atau memberitahukan isi akta, salinan akta atau kutipan akta kepada orang yang berkepentingan langsung dengan akta, ahli waris, atau orang yang memperoleh hak.

Agus menambahkan, sleain resistensi dari asosiasi profesi, pelaksanaan kewajiban pelaporan transaksi mencurigakan ini juga belum berjalan baik lantaran sosialisasi aturan tersebut belum efektif. Makanya, saat ini PPATK terus berupaya mengkomunikasikan aturan ini kepada masyarakat, sehingga implementasi aturan ini bisa berjalan dengan baik.

Sekedar mengingatkan, Juni tahun lalu, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 43/2015 tentang Pihak Pelapor dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Lewat beleid tersebut, pemerintah memperluas pihak yang wajib melaporkan transaksi keuangan yang mencurigakan.

Selain mewajibkan penyedia jasa keuangan dan penyedia barang atau jasa, juga diberlakukan bagi para professional.

Aturan tersebut melengkapi Undang-Undang Nomor 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Dalam UU tersebut, pihak pelapor yang wajib melaporkan transaksi keuangan mencurigakan hanya penyedia jasa keuangan dan penyedia barang atau jasa lainnya.

Nah, lewat perluasan kewajiban pelaporan transaksi keuangan mencurigakan bagi para professional ini, PPATK berharap perlindungan bagi pelaku usaha dari praktek kejahatan pencucian uang bisa ditingkatkan.

Bingung prosedur

Melalui aturan baru itu, para professional yang bergerak di bidang penyedia barang dan jasa serta para professional lain seperti notaries, advokat dan perencana keuangan wajib menerapkan prinsip mengenai profil pengguna jasa atau pembeli produknya. Sehingga, “Kalau ada yang mencurigakan bisa cepat dilaporkan,” kata Agus.

Ketika dihubungi KONTAN, para professional menampik keluhan PPATK tentang adanya resistensi atas aturan ini. Humphrey Djemat, Chairman Kantor Advokat dan Pengacara Gani Djemat & Partners mengatakan, kalangan professional dari advokat atau pengacara tidak menolak kewajiban pelaporan transaksi mencurigakan ini.

Namun, kata Humphrey, para pengacara bingung mengenai prosedur untuk menjalankan kewajiban ini. “Masa kalau kami dapat klien, kami harus tanya uang itu hasil korupsi atau bukan, kalau kliennya kasus narkoba mungkin gampang, kalau korupsi kan sulit membedakan. Itu yang kamu tidak mengerti,” kata Humphrey, kepada KONTAN kemarin.

Humphrey juga menilai kewajiban pelaporan transaksi mencurigakan ini tak sinkron dengan asas kerahasiaan antara pengacara dengan klien. Padahal asas ini diatur dalam UU Advokat. “Rawan dituntut,” kilah Humphrey.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: