Karpet Merah Digelar bagi Para Pemodal

Aturan Daftar Negatif Investasi (DNI) baru membuka lebar investasi asing

JAKARTA. Pemerintah membentangkan karpet merah bagi investor. Hal itu tergambar dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 44/2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Aturan yang lebih beken dengan beleid Daftar Negatif Investasi (DNI) ini diteken Presiden Joko Widodo pada 12 Mei 2016.

Secara umum total ada 350 bidang usaha yang tertutup dan terbuka dengan syarat. Yang terang, khusus bagi investor asing, DNI kali ini memberi peluang lebih besar untuk merambah sejumlah sektor usaha. Sebut saja, ke bisnis kafe, restoran, bar hingga cold storage, kini dibuka 100% untuk asing, dari sebelumnya terbuka sebagian.

Pun, aturan DNI baru ini mencoret sektor usaha terbuka bagi asing. Dengan kata lain, asing boleh masuk ke semua sektor usaha yang tidak dicantumkan dalam Perpres DNI baru.

Depoti Menko Perekonomian bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady mengakui bahwa Perpres revisi DNI ini memang lebih terbuka bagi investor asing. Meskipun begitu, pemerintah tetap melindungi bidang usaha tertentu antara lain di pertanian. “Memang ini lebih terbuka. Dari hasil kunjungan kami ke luar negeri dan monitoring ke daerah, responnya sangat positif,” kata Edy kepada KONTAN, Rabu (25/5).

Pemerintah berharap, beleid baru DNI bisa menarik minat investasi, entah itu pemodal lokal atau pemodal asing. Pertimbangannya, kini pemerintah sedang membutuhkan banyak dana investasi untuk menopang pembangunan dan ekonomi dalam negeri.

Sebagai gambaran, sampai tahun 2019, pemerintah membidik dana sekitar Rp 7.000 triliun untuk menghelat proyek infrastruktur. Kebutuhan dana tersebut nyaris mustahil disangga sendiri oleh anggaran pemerintah.

Arus investasi juga diharapkan bisa mengerek ekonomi pertumbuhan ekonomi 7%, seperti angan-angan Presiden Jokowi. Itulah sejumlah alasan pemerintah melonggarkan ketentuan DNI.

Kepala ekonom bidang industri dan daerah Bank Mandiri Dendi Ramdani berpendapat, secara umum beleid DNI yang baru ini cukup baik untuk melindungi industri lokal. Dia mencontohkan, industri perdagangan eceran, dibatasi 100% harus dari modal dalam negeri. Sebab, industri ini lebih banyak dijalankan oleh pengusaha kecil dan berbasis ekonomi kerakyatan.

Sebaliknya, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, menurut Dendi, juga perlu dibuka untuk asing. “Sebab industri kreatif kita masih di bawah negara lain,” katanya.

Namun pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Revrisond Baswir menilai, pedoman investasi ini mencerminkan pemerintah belum mengerti arah kebijakan ekonomi. “Fakta saat ini kesenjangan ekonomi sangat besar, aturan ini akan makin melebarkan kesenjangan itu,” ujar Revrisond.

Kita lihat, seberapa mujarab karpet merah ini mengundang investasi.

Sumber: Harian Kontan 26 Mei 2016

Penulis : Adinda Ade Mustami, Asep Munazat, Handoyo

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: