Waspadai Potensi Inflasi Tinggi Juni-Juli

JAKARTA – Selamat datang, Anda sedang memasuki bulan inflasi tinggi. Maklum, puncak inflasi diperkirakan akan terjadi pada Juni dan Juli 2016.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo melihat tanda-tanda inflasi tinggi pada Juni-Juli sudah terlihat. Harga minyak goreng dan gula pasir, misalnya,terus naik sejak awal Mei lalu. “Permintaan gula pasir naik untuk membuat kue lebaran,” kata Sasmito, Selasa (31/5).

Secara umum, lima faktor akan mendorong lonjakan inflasi sepanjang Juni-Juli. Selain kenaikan harga pangan mendekati puasa dan Lebaran, empat faktor lain turut menyulut inflasi.

Pertama, kenaikan tarif angkutan mudik Lebaran. Kedua, tahun ajaran baru akan jatuh pada periode Juni dan Juli. Ketiga, kenaikan tariff dasar listrik yang diterapkan PLN mulai Juni 2016.

Keempat,kenaikan jumah peredaran uang berlebih. Maklum, uang tunjangan hari raya (THR) serta bonus gaji ke -13 dan ke -14 bagi pegawai negeri sipil (PNS) dibagikan pada periode ini.

Nah, dengan berbagai faktor tadi, Ekonom Standard Chartered Aldian Telo Putra memprediksikan, inflasi Juni-Juli bisa berada di level masing-masing di angka 1%. Ini adalah prediksi moderat sesuai siklus tahunan. “Biasanya inflasi bulanan pada puasa dan Lebaran 1,4%,” ujarnya.

Dus, per Juli nanti, inflasi diprediksikan menyentuh 5% dibandingkan posisi Juli 2015. Jika tak diredam, bukan mustahil inflasi akhir tahun nanti berpotensi di atas target pemerintah yang sebesar 4,7%.

Namun, Ekonom Samuel Asset Manajemen Lana Soelistyaningsih memproyeksikan inflasi Juni-Juli bisa lebih rendah dan di bawah 1%. Sebab, kelesuan ekonomi berpotensi menekan daya beli. Dan situasi itu juga membikin runyam karena bisa mengerem pertumbuhan ekonomi.

Menurut Ekonom Senior Bank Mandiri Anton Gunawan, saat ekonomi lesu, masyarakat cenderung berhemat sehingga kenaikan harga barang cenderung tak seliar biasanya. “Pedagang pun tak berani menaikkan tinggi-tinggi harga dagangannya karena takut dagangannya tak laku,” tandas Anton.

Akhir kata, inflasi tinggi jelas musuh daya beli. Ia juga jadi dalih bank untuk tidak menurunkan bunga.

Sumber: Kontan, Rabu 1 Juni 2016

Penulis: Adinda Ade Mustami, Asep Munazat Zatnika

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan komentar