Bebas Visa Belum Mampu Dongkrak Bisnis Konvensi

JAKARTA – Bisnis konvensi dalam negeri atau biasa disebut MICE (meetings, incentives, conventions, dan exhibition) masih belum merasakan efek dari regulasi pembebasan visa bagi turis asing. Perlu ada langkah konkrit lain agar bisa mendongkrak bisnis konvensi di dalam negeri.

Salah satu caranya, menuru Iqbal Alan Abdullah, Ketua Tim Percepatan MICE Kementerian Pariwisata dengan promosi. “Kalau cuma bebas visa saja tidak akan efektif,” katanya kepada KONTAN, Rabu (1/6).

Alih-alih ingin mendongkrak jumlah wisatawan ke dalam negeri, Iqbal khawatir pemberian bebas visa ini malah bisa membawa efek buruk. Misalnya, jumlah pekerja asing liar dan imigran gelap masuk Indonesia malah melonjak.

Ida Bagus Lolec, Direktur Hubungan Eksternal PT Pacific World Nusantara pun melontarkan hal yang sama bahwa bebas visa juga harus dibarengi dengan promosi. “Soalnya Indonesia (bisnis MICE), masih belum dikenal di mancanegara,” katanya kepada KONTAN.

Perusahaan yang berkecimpung di bisnis konvensi di pulau Dewata ini bercerita bahwa salah satu kekurangan bisnis ini di pasar dalam negeri adalah kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih. Apabila, bisnis ini mampu menyediakan tenaga kerja terlatih, baik itu dari segi pengolahan bisnis ini serta pemasaran, bisa dengan gampang menarik wisatawan dari kalangan MICE.

Menurut Lolec, jumlah wisatawan asing yang bertujuan untuk bisnis di Bali di kuartal I-2016 tumbuh 3,64% dibanding kuartal IV-2015. Sayang, ia tidak merinci angkanya.

Adapun untuk jumlah turis bisnis terbanyak di Bali pada periode tersebut berasal dari Australia. Hanya saja untuk periode tertentu, seperti bulan Juni, Juli sampai Agustus, yang datang ke Bali untuk tujuan bisnis, berasal dari Amerika Serikat serta Eropa.

Pengamat pariwisata dari Podomoro University, Santi Palupi menilai bisnis konvensi bisa meningkat, asalkan dikemas secara menarik. Seperti memadukan bisnis konvensi dengan wisata di daerah setempat.

Selain itu hal yang tidak kalah penting adalah mempromosikan tempat konvensi. “Orang juga harus tahu tempat konvensi seperti apa,” katanya.

Ia juga sepakat kegiatan promosi yang berkelanjutan bisa menumbuhkan bisnis konvensi di tanah air. Soalnya, promosi wisata, termasuk wisata konvensi itu memang membutuhkan waktu yang tidak cepat.

Ia memprediksi, bisnis konvensi di Indonesia di periode 2016 sampai 2017 nanti bisa tumbuh antara 2%-3%. Adapun kontribusi wisatawan asing bisnis yang pada 2015 baru 5% dari total wisman, bisa naik 7%-8% pada 2017.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap dari target turis asing 20 juta pada 2020, kontribusi wisman bisnis bisa mencapai 20%, dengan nilai bisa mencapai US$ 2,5 miliar. Saat ini, kontribusi turis bisnis baru 5% dari total wisatawan.

Sumber: Kontan, Kamis 2 Juni 2016

Penulis: Pamela Sarnia

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: