Industri Peledak Tersedak

JAKARTA. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Demikian kira-kira gambaran industry Ammonium nitrate (AN) dalam negeri. Selain permintaan bahan peledak menurun, pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Produsen dan Distributor Bahan Peledak Indonesia (Asprodispa), mengeluhkan dugaan praktik dumping oleh China.

China bukan satu-satunya. Asprodispa menduga Malaysia, Australia, dan Korea Selatan juga menerapkan praktik. “Namun, memang China yang paling banyak,” ujar Basri Ganto, President & Chief Executive Officer PT Mexis, Kamis (2/6).

Catatan Asprodispa, harga AN impor bisa lebih murah 20%-25% ketimbang AN produksi lokal. Wawa Jaka Sungkawa, Sales and Services Director PT Multi Nitrotama Kimia menggambarkan, harga NA impor di Kalimantan saat ini sebesar UStangga.$ 350 per ton.

Patut dicatat, harga AN impor bisa beragam di tanah air, tergantung lokasi pengiriman. Sementara AN merupakan salah satu bahan baku dari bahan pembuat peledak.

Berkaca dari China misalnya, pemicu harga jual AN mereka bisa miring karena punya teknologi. China mampu menekan biaya produksi karena menggunakan teknik gasifikasi batubara. Sementara teknik produksi AN di Indonesia yang menggunakan gas ammonia, menelan biaya produksi lebih mahal.

Tak cuma teknik, harga gas di Indonesia juga mahal jika dibandingkan dengan negara tetangga. Alhasil, harga jual AN lokal tak kompetitif ketimbang AN impor.

Masalahnya, sejauh ini produsen Indonesia belum berencana menerapkan teknik gasifikasi batubara. Alasan mereka biaya investasinya bisa sampai tiga kali lipat lebih mahal. “Bisa di atas US$ 1 miliar, dari sisi skala ekonomi belum masuk,” kata Antung Pandoyo, DIrektur Utama PT Kaltim Nitrate Indonesia.

Charles Daniel Gobel, President Director PT Multi Nitrotama Kimia bilang, saat ini Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Kementerian Perdagangan tengah menyelidiki dugaan praktik dumping keempat negara tadi. Dia berharap, pemerintah secepatnya bertindak tegas.

Ingin Kuota Merata

Selain tantangan dugaan praktik dumping, pelaku usaha juga menghadapi kelebihan pasokan alias oversupply AN di dalam negeri. Ini terjadi karena industry pertambangan batubara yang merupakan penyerap mayoritas, sedang lesu. Penjualan AN dalam negeri pun menyusut sejak tahun 2014.

Kapasitas produksi AN lokal saat ini mencapai 500.000 ton per tahun. Sementara proyeksi kebutuhan AN nasional pada 2016 akan mencapai 350.000 ton. Meski kapasitas produksi dalam negeri mumpuni, ada sebanyak 90.550 ton dari kebutuhan tersebut, berasal dari AN impor yang kuotanya ditetapkan pemerintah.

Asal tahu saja, tahun ini, PT Dahana (Persero) adalah pendekap kuota impor AN terbesar dari 10 perusahaan yang merupakan badan usaha bahan peledak (BU Handak) Kuota impor AN Dahana yakni 50.000 ton atau 55,22% terhadap total kuota.

Asprodispa pun menuding pemerintah tak adil membagi jatah kuota impor dengan menganakemaskan perusahaan BUMN. “Impor memang tetap harus dibuka karena bisa mengimbangi pricing mechanism dari harga jual, tapi kami minta fair completion tndas Basri Ganto.

 

Sumber: Harian Kontan, 3 Juni 2016

Penulis : Anastasia Lilin Y.

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: