Terbuka Bagi Asing, Bisnis Hotel Bujet Sudah Sesak

JAKARTA. Sama dengan pebisnis pariwisata, kebijakan pemerintah membuka hotel kecil bagi investasi asing turut menjadi pro kontra bagi pebisnis. Di aturan itu disebut kalau investor asing bisa menjadi pemilik saham mayoritas (67%) di hotel bintang satu dan bintang dua.

Kekhawatiran damak negatif aturan ini diungkapkan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). “Ini tidak lucu. Hotel bintang satu dan bintang dua adalah lahan usaha pebisnis hotel kelas menengah dan bawah.” Papar Hariyadi Sukamdani, ketua Umum PHRI kepada KONTAN, belum lama berselang (31/5).

Menurut hitungan PHRI, pasokan hotel bintang satu dan bintang dua di pasar lokal sudah berlebih alias oversupply. Sedangkan permintaan alias tingkat okupansi di hotel bintang tersebut tidak kunjung menanjak.

Hariyadi menyebut pihaknya sudah member sinyal bisnis tersebut kepada pemerintah. Namun, ia mengklaim pemerintah tidak member kesempatan bagi pebisnis hotel domestic untuk bisa berkomunikasi. “Kenapa memanggil asing bila pemain lokal sudah bisa memenuhinya,” kata Hariyadi.

Ia khawatir, dengan opsi bisa menguasai 67% kepemilikan hotel bintang satu dan bintang dua, pebisnis hotel asing bisa semakin merajalela beroperasi di pasar domestic.

Pebisnis lokal was-was bila pebisnis jaringan hotel asal China sudah merengsek pasar domestic. “Kalau masuk pemain China seperti 7 Days Inn, habislah kita,” sungutnya.

Tak Mengkhawatirkan

Pengusaha hotel yang lain justru punya pandangan lain. Menurut NG Suwito, Direktur Utama PT Red Planet Indonesia Tbk, pihaknya tidak terlalu khawatir dengan beleid tersebut. Soalnya, investor asing bakal berpikir dua kali untu masuk ke pasar hotel bintang satu dan bintang dua. “Perli waktu, satu, dua tahun,” katanya kepada KONTAN.

Kalaupun asing masuk, pebisnis ini lebih condong memilih hotel kelas atas seperti bintang empat atau bintang lima.

Karena itulah Red Planet bakal terus melanjutkan ekpansi. Seperti rencana menambah dua hotel bujet di tahun ini. Maklum, hotel bujet yang biasanya masuk kategori bintang dua menjadi bisnis utama perusahaan ini.

Tahun ini, Red Planet menargetkan pertumbuhan bisnis sekitar 10%-15% dari pendapatan 2015 yang tercatat Rp 66,48 miliar.

Moedjianto, Chief Executive Officer Intiwhiz juga punya pendapat serupa dengan NG Suwito. Baginya, pebisnis lokal sangat kuat bermain di hotel bintang satu dan bintang dua. “Kalau punya kekuatan, lokal tak bakal kalah saing,” kata Moedjianto.

Tapi ia memberi catatan, kekuatan ini harus di jaga. Jangan sampai pebisnis hotel lokal tidak becus dalam menangani manajemen hotel, terutama dari sisi layanan.

Menurut Andi Fetiadhi, Business Development Officer Santika, sebagai pengelola hotel bujet berlabel Amaris, kecil kemungkinan asing bakal masuk ke hotel bintang satu atau dua. Lantaran kebanyakan hotel jenis ini berdiri sendiri (stand alone)

Sedangkan investor asing lebih suka membangun hotel di dalam kawasan pengembangan property, seperti di proyek property terpadu. “Asing lebih banyak masuk ke lahan pengembangan,” katanya ke KONTAN (2/6)

Dengan kondisi ini justru hotel yang bisa mengedepankan konsep hotel dan menarik tamu masuk. Langkah lainnya adalah bisa menekan biaya operasional hotel yang menjaga margin usaha.

Hariyadi menyebut

 

Sumber: Harian Kontan, 3 Juni 2016

Penulis : Elisabet Lisa Listiani

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: