Kredit macet naik, klaim meningkat tinggi

JAKARTA. Tren kenaikan rasio kredit macet perbankan membuat PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) dan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) waspada. Maklum, klaim penjaminan dua perusahaan penjaminan kredit tersebut mungkin bakal meningkat seiring dengan proyeksi kenaikan kredit macet di perbankan.

Rusdonodbanu, Direktur Investasi dan Keuangan Jamkrindo bilang, ada dua segmen kredit yang dapat menaikkan klaim Jamkrindo, yakni kredit usaha menengah kecil mikro (UMKM) dan kredit usaha rakyat (KUR).

Salah satu faktor yang mendorong kenaikan klaim berasal dari sejumlah bank yang kini tidak lagi berstatus sebagai penyalur KUR. Sehingga, kredit macet yang tidak tertagih diklaim ke Jamkrindo.

Selain itu, rasio kredit macet bank untuk kredit korporasi komersial diperkirakan meningkat tahun ini. Inilah yang membuat klaim Jamkrindo di tahun ini bisa menembus Rp 1,25 triliun atau naik 36,3% dari tahun lalu Rp 917 miliar.

Hingga Mei 2016, Rusdonodbanu menyebut, klaim Jamkrindo masih flat. “Per Mei, klaim kami Rp 324,1 miliar lebih rendah dari Mei tahun lalu Rp 328,3 miliar,” tuturnya, Minggu (19/5).

Beban klaim mayoritas berasal dari KUR sebesar 74%. Sisanya 26% dari penjaminan non KUR. Pacu kinerja Klaim yang dibayar Askrindo lebih deras.

Antonius Chandra S. Napitupulu, Direktur Utama Askrindo mengatakan, rasio klaim Askrindo sudah mencapai 48% per Mei 2016 dari angka proyeksi klaim setahun. Tanpa menyebut pertumbuhan klaim per Mei 2016, klaim yang dibayar Askrindo mencapai Rp 728 miliar.

Hingga akhir tahun, klaim Askrindo diproyeksikan mencapai Rp 1,5 triliun. Antonius merinci, dari total klaim, porsi penjaminan non KUR sebesar 56,8%. Lalu sisanya sebesar 43% berasal dari segmen KUR.

Julian Noor, Direktur Eksekutif Asoasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menambahkan, klaim asuransi kredit berpeluang naik terutama untuk kredit komersial. Tapi, semua bergantung pada kinerja perbankan nantinya.

Sekalipun klaim naik, ia meyakini, volume perolehan premi dari asuransi kredit naik. Sebab, bank akan menempatkan risiko kreditnya di perusahaan asuransi. Untuk menekan risiko klaim, perusahaan penjaminan kredit dapat melakukan penjaminan ulang. Misal dengan menjaminkan lagi ke perusahaan reasuransi.

Agar kinerja masih sesuai target meski klaim menanjak, perusahaan penjaminan kredit terus memacu kinerja. Askrindo misalnya, menyiapkan sejumlah rencana bisnis di tahun ini. Pertama, memperluas jaringan. Kedua, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM).

Ketiga, penerapan budaya inovasi. Keempat, inovasi produk bundling untuk menarik nasabah mendapat ekstra manfaat. Kelima, inovasi layanan IT dengan layanan berbasis online. Strategi ini diharapkan bisa membuat target laba tercapai.

Tahun ini, Askrindo menargetkan laba Rp 1,5 triliun. Per Mei 2016, Askrindo mengantongi laba sebelum pajak sebesar Rp 225,7 miliar.

 

 

Sumber: KONTAN, 20 Juni 2016

Penulis : Mona Tobing, Dina Farisah

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: