Seminggu ini, istilah Brexit semakin dikenal. Di kalangan ekonom dan analisis global, istilah itu menunjukkan hasil referendum di Inggris Raya yang menelurkan keputusan untuk keluar dari Uni Eropa. Tapi, di kalangan media sosial, Brexit yang merupakan kependekan dari Brebes Exit lebih dikenal sebagai gerbang tol terbaru di Brebes Timur yang akan dinikmati oleh para pemudik pantura di Lebaran nanti.
Brexit merujuk pada perkembangan terkini proyek jalan tol Trans Jawa, khususnya di ruas yang merupakan kelanjutan dari Tol Jakarta-Cikampek, Cipali, dan Palikanci (Cirebon). Ruas tol ini melanjutkan ruas Kanci-Pejagan yang sudah diresmikan pada Januari 2010 silam. Lima setengah tahun kemudian, ruas lanjutannya (seksi pertama dan kedua) baru bisa diresmikan. Masih ada dua seksi lagi sebelum jalan tol yang konsesinya dipegang oleh PT Pejagan Pemalang Toll Road, Anak usaha PT Wijaya Karya Tbk selesai di Pemalang.
Meski baru separuh bagian Tol Pejagan-Pemalang yang hanya sepanjang 20,2 kilometer (km), tetapi dalam keadaan normal, tidak sepadat saat musim mudik atau liburan panjang, keberadaan ruas tol ini sangat berarti untuk memangkas waktu tempuh dari Jakarta atau Bandung ke Jawa Tengah. Mungkin saja karena proyeknya lama mangkrak dan otomatis nilainya menyesuaikan harga lahan terbaru, tarif ruas tol Trans Jawa akan terasa mahal. Hanya kendaraan pribadi yang berpeluang memanfaatkannya. Itu pun mereka yang berduit dan tidak mau ambil risiko melewati jalur biasa.
Tarif tol sebesar Rp 165.000 dari Jakarta dan keluar di Brebes Timur memang tidak murah. Seiring kenaikan berkala tarif tol, hampir pasti dalam dua tahun ke depan, nilainya sudah mendekati Rp 200.000. Tetapi, setidaknya, pengguna kendaraan kini punya pilihan lain untuk melewati pantura, tanpa harus tergantung pada jalur biasa pantura yang sering tidak bisa diduga tingkat kemacetannya. Belum lagi kondisi jalan yang meski selalu diperbaiki setiap tahun, selalu berlobang dan ada saja jembatan yang diperbaiki.
Mewujudkan kenyamanan memang selalu membutuhkan biaya tidak murah. Namun, jika proyek Trans Jawa bisa lebih lancar dan tidak terganjal oleh aksi spekulasi pemegang konsesinya, barangkali tarif tol ruas Trans Jawa sampai Semarang tidak akan semakin mahal. Itu berarti, jalan tol ini juga bisa lebih “ramah” terhadap kantor pengguna kendaraan, meski sebanding dengan kenyamanannya.
Sumber: Kontan, Kamis 30 Juni 2016
Penulis: Bagus Marsudi
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar