Inflasi Mini, Peluang BI Pangkas Bunga Acuan Lagi

Hasil gambar untuk peluang BI pangkas bunga acuan

Isu kenaikan harga rokok membuat inflasi September 2016 mencapai 0,22%

JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) September 2016 mengalami inflasi 0,22%. Dengan begitu, inflasi tahun kalender 2016 sebesar 1,97% dan inflasi tahun ke tahun September 2016 mencapai 3,07%.

Kepala BPS Suhariyanto mengklaim, inflasi September 2016 terkendali. “Dengan memperhatikan inflasi tahun kalender, kami harapkan dalam tiga bulan ke depan inflasi tetap terkendali sehingga target bisa tercapai,” katanya, Senin (3/10). Dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016, pemerintah mentargetkan inflasi tahunan 4%.

BPS mencatat, inflasi September 2016 terjadi karena tekanan harga pada pulsa ponsel, biaya sewa rumah, biaya akademi dan perguruan tinggi, harga rokok, biaya tarif listrik, dan cabai merah. Sedangkan harga bahan makanan mengalami deflasi 0,07%.

Menurut Suhariyanto, kenaikan harga rokok filter dan rokok putih memberikan andil ke inflasi 0,02% dan 0,01% dan total bobot 3,52%. “Isu kenaikan harga rokok kemarin membuat pedagang eceran menaikkan harga,” katanya. BPS mencatat, pada September 2016 harga rokok mengalami inflasi sebesar 1%.

Pemerintah mengumumkan rencana kenaikan tarif cukai tembakau rata-rata 10,54% mulai 1 Januari 2017. Dengan kenaikan itu, harga jual eceran rokok naik rata-rata 12,26%. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo bilang, biasanya kenaikan cukai tidak membuat pedagang langsung menaikkan harga jual eceran rokok sekaligus.

Biasanya, kenaikan harga didistribusikan ke beberapa bulan agar konsumen tidak merasakan dampak besar kenaikan harga tersebut. Pemerintah menghitung kenaikan tarif cukai rokok tersebut akan mendorong inflasi 0,23% pada tahun depan.

Suku bunga bisa turun

Menurut Sasmito, pihaknya belum melihat adanya dorongan cukup besar yang bisa menyebabkan kenaikan inflasi tinggi bulan ini. Oleh karena BPS memperkirakan inflasi di Oktober ini moderat di bawah 0,5%. Kenaikan cukai rokok mulai pada 2017 juga belum akan banyak berdampak terhadap inflasi bulan Oktober. Pihaknya juga melihat belum ada tanda-tanda kenaikan harga bahan bakar minyak. “Saya kira Oktober masih relatif moderat,” katanya.

Hanya saja, masih ada potensi inflasi yang berasal dari kenaikan harga beras pada bulan ini. Sebab berdasarkan data BPS, pada September 2016, harga gabah kering panen di tingkat petani dan di tingkat penggilingan naik masing-masing 1,29% dan 1,26% dibanding Agustus 2016.

Sedangkan pada September 2016, harga gabah kering giling di tingkat petani turun 2,13%. Namun di tingkat pengilingan, harga gabah kering giling September 2016 naik 1,98% dibanding Agustus. Sasmito memperkirakan inflasi nasional hingga akhir tahun masih bisa berada di batas bawah target inflasi 4% plus minus 1%. “Tinggal tiga bulan, misalnya tiga bulan inflasi 1% saja, inflasi (full year) sekitar 3% lebih sedikit,” tambahnya.

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution menilai laju inflasi September 2016 masih sesuai harapan. Sebab, pola laju inflasi masih sama dengan beberapa bulan terakhir, yaitu di level yang rendah. Dengan kondisi itu, dia melihat, ruang untuk pelonggaran moneter masih terbuka lebar.

Oleh karenanya, Darmin melihat, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter masih berpeluang untuk kembali memangkas suku bunga acuannya. Sebelumnya, pada September 2016, BI menurunkan 7 days reverse repo rate sebesar 0,25% menjadi 5%. “Mestinya suku bunga bank komersial juga segera turun,” kata Darmin, Senin (3/10).

Suku bunga bank bisa turun, selain karena inflasi rendah, saat ini likuiditas di pasar keuangan cukup baik. Kenaikan ini disebabkan banyaknya aliran dana masuk dari pengampunan pajak, di tengah kredit yang masih seret.

Sumber : Harian Kontan 4 Oktober 2016

Penulis : Adinda Ade Mustami, Asep Munazat Zatnika

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan komentar