Revolusi Industri IV mengancam 60,18 juta Pekerja Indonesia

Jakarta. Pemerintah diminta membuat peta jalan atau roadmap kebijakan untuk menghadapi revolusi industri keempat. Peta jalan itu diharapkan bisa menjadi solusi atas revolusi ekonomi yang ditandai dengan makin besarnya porsi digital yang akan menggantikan peran manusia. Jika tidak disikapi dengan cepat maka revolusi keempat bisa menyebabkan ketimpangan semakin besar.

International NGO Forum on Indonesia Development (Infid) menilai, datangnya revolusi industri keempat akan menciptakan cara kerja baru dan menuntut pekerja memiliki keahlian baru yang lebih tinggi. Manager Program Infid Siti Khoirun Ni’mah menyatakan, kesempatan kerja adalah sumber ketimpangan sosial.

Apalagi sebagian besar pekerja Indonesia lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ke bawah dan tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan keterampilan. “Kalau ini tidak diatasi, masalah revolusi industri keempat di khawatirkan akan memperlebar ketimpangan,” kata Ni’mah, Kamis (9/11).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2017 menunjukkan, sebanyak 60,14% dari total penduduk yang bekerja berpendidikan SMP ke bawah. Di sisi lain, penurunan gini ration Indonesia juga melambat. Catatan BPS, gini ration Maret 2017 mencapai 0,393 hanya turun 0,001 poin di banding September 2016 dan hanya turun 0,004 poin dibanding Maret 2016.

Ni’mah menambahkan, pemerintah perlu meningkatkan keahlian dan kompetensi angkatan kerja yang ada, termasuk calon angkatan kerja baru. Caranya, pertama, mengalokasikan sebanyak 10%-20% anggaran pendidikan untuk pelatihan kejuruan.

Kedua, memastikan kerja sama lintas kementerian dan kemitraan dengan pemerintah daerah dalam pengembangkan program pelatihan. Ketiga, mewajibkan perusahaan menyediakan pelatihan on the job. Keempat, memastikan masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan akses pelatihan yang berkualitas.

Putra Prima Raka, Wakil Kepala Divisi Kajian Ekonomi dan Pembangunan Indonesia (Kanopi) Universitas Indonesia mengatakan, berdasarkan data World Bank, revolusi industri keempat bisa menyebabkan 47% angkatan kerja mengalami ancaman pekerjaan dalam waktu satu dekade ke depan. Jika data BPS menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia Agustus 2017 mencapai 128,06 juta orang, ada 60,18 juta orang yang akan terancam.

Direktur UNI Apro Telcom Kun Wardana mengatakan, pelatihan untuk angkatan kerja tak hanya melibatkan peran pemerintah, tetapi juga serikat pekerja dan industri melalui suatu kelembagaan. “Nanti industri akan melakukan supervisi langsung pelatihan provokasi itu, seperti di Malaysia,” kata Kun. Dia menandaskan, roadmap kebijakan pemerintah harus mencakup industri-industri yang akan bertransformasi.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: