Buram, produksi kaca berpeluang turun 5%

JAKARTA. Industri kaca dalam negeri diproyeksikan masih buram. Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) memperkirakan, tahun 2018 produksi kaca akan merosot sekitar 5% dibandingkan tahun 2017.

Dalam proyeksi AKLP, tahun 2018 produksi kaca domestik setidaknya akan mencapai 1,18 juta ton. Tahun 2017 lalu, kapasitas produksi kaca nasional berada di kisaran 1,24 juta ton.

Yustinus Gunawan, Ketua AKLP mengatakan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja produksi kaca tahun ini buram. Pertama, harga gas yang masih tinggi sehingga melemahkan daya saing industri kaca. Kedua, ada produsen kaca lembaran yang melakukan ekspansi cold repair, seperti PT Asahimas Flat Glass Tbk dan PT Tossa Shakti, sehingga produksi kaca akan berhenti sementara.

“Investasi ini harus dilakukan untuk menjaga kelangsungan usaha, meski saat ini tetap dibayangi daya saing rendah akibat tingginya harga gas bumi untuk industri,” kata Yustinus kepada KONTAN, Rabu (3/1).

Berdasarkan catatan KONTAN, Asahimas Flat Glass telah merencanakan penambahan kapasitas produksi sebesar 14,2% dalam dua tahun. Tahun 2017 produksi kaca Asahi Flat Glass mencapai 630.000 ton. Sedangkan pada tahun 2019 ditargetkan menjadi sekitar 720.000 ton.

Hingga kuartal III-2017, emiten berkode saham AMFG di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini membukukan penjualan bersih sebesar Rp 2,85 triliun, naik 4% dibandingkan periode sama tahun 2016 yang sebesar Rp 2,74 triliun. Namun, perolehan laba hanya sekitar Rp 63 miliar, anjlok sekitar 70% dibandingkan dengan periode sama tahun 2016 sebesar Rp 216 miliar.

Di tengah ketatnya persaingan bisnis kaca di dalam negeri, Asahimas Flat Glass tetap optimistis dapat meraih pertumbuhan kinerja yang positif di tahun 2018. Perusahaan ini menargetkan pendapatan naik antara 3% sampai 5%.

Namun dengan catatan, harga gas dapat ditekan.Maklum, hampir separuh ongkos produksi terserap untuk bahan bakar. “Gas itu memakan 30% lebih biaya energi perusahaan. Tentu kami ingin bisa bersaing dengan negara lain,” kata Rusli Pranadi, Direktur Asahimas Flat Glass.

Properti dan otomotif

Pasar kaca dalam negeri masih sangat menggantungkan pada sektor properti dan otomotif. Kebutuhan kaca domestik diperkirakan sebanyak 750.000 ton. Sedangkan sisanya dipasarkan untuk tujuan ekspor. Ekspor diperlukan untuk menambah pundi-pundi pendapatan perusahaan.

“Ekspor untuk mencapai skala ekonomi. Perusahaan tentu perlu dapat dollar AS untuk belanja bahan baku yang impor, yaitu soda ash,” kata Yustinus.

Belum selesai persoalan yang menerpa industri kaca dalam negeri, serbuan produk impor semakin memperparah keadaan. Di antaranya berasal dari Malaysia. Kaca produksi Malaysia dinilai lebih murah ketimbang lokal lantaran ongkos produksi yang lebih murah akibat harga gas rendah.

Agar tidak berlarut-larut, AKLP meminta pemerintah merealisasikan penurunan harga gas bumi. “Pemerintah sekarang masih terjerat modus pungutan di hulu untuk mengisi Pendapatan Negara APBN,” ujar Yustinus.

Sekadar mengingatkan, kebijakan penurunan harga gas untuk industri itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi yang diteken Presiden Joko Widodo pada 3 Mei 2016.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: