Konsumen tak khawatirkan harga minyak

JAKARTA. Harga minyak yang semakin mahal di pasar dunia tak mempengaruhi optimisme konsumen. Optimisme konsumen tetap meningkat bersamaan dengan meredanya kekhawatiran kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik pada tiga bulan mendatang.

Optimisme itu terekam dalam Survei Konsumen yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk periode Januari 2018. Poin utama survei ini adalah, Indeks Keyakinan Konsumen pada Januari 2018 masih di level optimis dengan nilai 126,1, turun tipis dari bulan sebelumnya 126,4. Terjaganya optimisme konsumen ditopang oleh kenaikan penghasilan saat ini dan kenaikan ekspektasi penghasilan pada enam bulan mendatang.

Konsumen juga memperkirakan penurunan tekanan kenaikan harga pada April 2018, Hal ini terindikasi Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang sebesar 171,1, lebih rendah 2,1 poin dari bulan sebelumnya. “Menurunnya tekanan kenaikan harga karena meredanya kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga BBM dan tarif listrik, serta perkiraan peningkatan ketersediaan pangan,” bunyi laporan Survei Konsumen.

Memang, pemerintah sudah memutuskan harga BBM dan tarif listrik tetap hingga Maret 2018. Pemerintah memutuskan akan kembali mengkaji harga BBM dan tarif listrik untuk tiga bulan selanjutnya, pada Maret mendatang.

Namun, sejauh ini belum ada indikasi pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif listrik. Belum lama ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan belum ada keingingan pemerintah mengubah kebijakan harga BBM dan listrik.

Wajar saja, saat ini adalah tahun politik. Kenaikan harga BBM dan tarif listrik bakal merusak citra Presiden Joko Widodo yang dipastikan bakal maju pada Pilpres 2019.

Hanya saja, Ekonom Indef Bhima Yudistira mengingatkan, pemerintah sudah tidak punya banyak pilihan. Indonesia Crude Price (ICP) pada Januari 2017 sudah mencapai US$ 65,59 per barel, jauh dari asumsi di APBN 2018 US$ 50 per barel. “Perhitungan harga keekonomian premium harusnya Rp 8.925 per liter dan solar Rp 9.058 per liter dengan asumsi minyak mentah jenis brent US$ 70 per barel dan kurs Rp 13.321 per dolar AS. Sementara harga subsidi Premium Rp 6.550 per liter,” jelas Bhima, Selasa (6/2).

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, kenaikan harga BBM tampaknya bakal dihindari pemerintah. Pasalnya, kenaikan harga BBM akan memicu inflasi, sehingga semakin menggerus daya beli konsumen. “Daya beli konsumen jadi PR (pekerjaan rumah) pemerintah tahun ini, karena tahun 2017 hanya tumbuh di bawah 5%,” jelas Josua.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: