Inflasi Juni Bakal Kembali Melonjak

1JAKARTA. Sesuai dengan periode setiap tahunnya, periode menjelang lebaran selalu diikuti dengan tekanan inflasi. Sejumlah ekonom yang dihubungi KONTAN, Senin kemarin (29/6) memperkirakan inflasi Juni bakal berada pada level 0,6%, lebih tinggi dari periode inflasi Juni 2014 yang masih 0,43%. Pengumuman resmi inflasi Juni dari Badan Pusat Statistik (BPS) akan dilakukan Rabu ini (1/7).

Kepala Ekonom BII Juniman memperkirakan inflasi Juni sekitar 0,69%. Bila dilihat secara tahunan (year on year) inflasi Juni mencapai 7,42% atau naik dari Mei 7,15%. Lonjakan inflasi ini akibat kemarau panjang dan kenaikan permintaan menjelang Lebaran. Permintaan yang tinggi namun tidak diikuti dengan pasokan yang cukup.

Semua harga bahan pokok seperti cabai, minyak goreng, terigu dan gula naik. Hanya bawang merah yang turun.

Selain itu, tekanan inflasi Juni datang dari pelemahan rupiah. “Ini berdampak pada kenaikan harga barang dengan tingkat impor tinggi seperti mobil dan motor,” ujar Juniman, Senin (29/6).

Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat inflasi Juni sebesar 0,65% dan inflasi tahunan naik ke 7,38%. Lonjakan inflasi ini lebih karena kenaikan harga menjelang Lebaran. Harga komoditas-komoditas pangan atau volatile food cenderung naik seperti beras dan cabai.

Namun demikian, inflasi inti dalam tren yang stabil di 5,03%. Meskipun rupiah melemah 1,3% dibanding Mei 2015, inflasi inti terkompensasi dengan harga emas yang turun 1,3%. “Jadi bisa diimbangi dengan penurunan harga emas,” terang Josua.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat, inflasi Juni 2015 sekitar 0,77% sehingga inflasi tahunan naik ke 7,73%. Meski tinggi, tapi ini masih wajar mengingat Juni adalah periode sebulan jelang Lebaran.

Alhasil, harga bahan pangan seperti daging meningkat. Rupiah yang melemah dari Rp 13.000 ke Rp 13.300 per dollar Amerika Serikat (AS) juga berpengaruh pada harga bahan makanan jadi.

Semakin bergejolak

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengaku inflasi pada Juni akan mengarah pada level 1% dan akan berlanjut pada Juli. Adanya Peraturan Presiden (Perpres) mengenai pengendalian harga bahan pangan diharapkan bisa meminimalisir dampak inflasi Juni dan Juli.

Hingga akhir tahun, David melihat inflasi tahunan masih bisa ke arah 5% apabila dampak El Nino tahun ini tidak besar. Demi mengantisipasi tekanan inflasi ini, pemerintah bersama BI harus menyiapkan stok beras yang cukup dan pangan utama lainnya.

Juniman pun sependapat, inflasi Juli semakin bergejolak karena puncak perayaan Idul Fitri dan tahun ajaran baru. Inflasi Juli bakal sebesar 0,98% atau secara tahunan 7,48%. Namun, Juniman meyakini inflasi hingga akhir tahun masih sesuai target Bank Indonesia (BI) yaitu 5%.

“Inflasi Juli semakin tinggi dan baru melandai pada September dan Oktober,” ujar Josua. Alhasil, BI akan terus mempertahankan kebijakan moneter ketat dengan suku bunga atau BI rate 7,5%.

Perhitungan Lana, inflasi Juli bisa mencapai 0,94%. Namun, setelah itu inflasi melandai dan bahkan bisa terjadi deflasi pada Agustus-Oktober. Dengan demikian, inflasi bakal berada dalam target BI. Namun, ini dengan catatan pemerintah tak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) premium.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: