Apakah Gijzeling Itu?

tax26

Belakangan ini berbagai media massa marak memberitakan mengenai beberapa pengusaha yang dipenjara karena menunggak pajak. Apakah menunggak pembayaran pajak itu dianggap sebagai tindakan kriminal sehingga pelakunya layak dipenjara? Mohon dijelaskan.

Terima Kasih

Glenn – Manado

 

Kami menghargai perhatian bapak yang telah mengikuti pemberitaan mengenai isu seputar perpajakan. Kesadaran pajak dimulai dari pemahaman yang benar dan lengkap tentang pengetahuan perpajakan. Pemahaman pajak akan meningkat jika diiringi dengan proses pembelajaran yang terus-menerus. Nah, pembelajaran tentang pajak ini tidak mungkin bisa berjalan ketika seseorang tidak memiliki perhatian dan ketertarikan terhadap masalah perpajakan.

Berita yang bapak ikuti di atas sebenarnya merupakah ekspos dari kegiatan penagihan aktif pajak yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bekerja sama dengan instansi terkait. Perlu diketahui bahwa istilah yang benar dalam pertanyaan bapak di atas adalah “disandera” atau “paksa badan” (gijzeling), bukan “dipenjara”. Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu kebebasan Penanggung Pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu. Dasar hukum dilakukannya penyanderaan adalah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000. Sedangkan mengenai tata cara penyanderaan, rehabilitasi nama baik Penanggung Pajak, dan pemberian ganti rugi dalam rangka penagihan pajak dengan surat paksa diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 137 Tahun 2000.

Kegiatan penyanderaan atau gijzeling itu sendiri pada dasarnya merupakan salah satu rangkaian dari tindakan penagihan pajak yang dilakukan oleh DJP agar Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak. Selain gijzeling, kegiatan lain dalam rangka pelaksanaan penagihan pajak yang menjadi kewenangan DJP adalah menegur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan surat paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, dan menjual barang yang telah disita dari Penanggung Pajak.

Gijzeling artinya Penanggung Pajak dititipkan di rumah tahanan negara dan terpisah dari tahanan lain (sepanjang belum ada tempat khusus). Gijzeling dilaksanakan untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan, serta dapat diperpajang untuk paling lama 6 (enam) bulan ke depan. Gijzeling hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung Pajak yang mempunyai utang pajak sekurang-kuranganya Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) yang meliputi seluruh jenis pajak dan tahun pajak. Jumlah tersebut merupakan syarat kuantitatif dan sekaligus menunjukkan bahwa penyanderaan tidak ditujukan kepada penunggak pajak yang berpenghasilan kecil. Selain syarat kuantitatif juga ditentukan syarat kualitatif, yaitu diragukan itikad baiknya untuk melunasi utang pajaknya. Hal ini bisa terjadi, misalnya karena Penanggung Pajak diduga menyembunyikan harta kekayaannya sehingga tidak ada atau tidak cukup barang yang disita untuk jaminan pelunasan utang pajak, atau terdapat dugaan kuat bahwa yang bersangkutan hendak melarikan diri. Demikian penjelasan kami.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: