Indef Akui Ada Penurunan Daya Beli Hingga di Bawah 40 Persen

Dalam penutupan rapat koordinasi dengan Kamar Dagang Industri (Kadin) Presiden Joko Widodo sempat mengungkapkan sejumlah data, salah satunya bahwa daya beli masyarakat tidak menurun. Jasa kurir yang melonjak hingga 130 persen dan PPN yang meningkat hingga 12,14 persen menjadi buktinya.

Namun Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati justru mengungkapkan hal sebaliknya. Enny mengatakan bahwa daya beli masyarakat memang menurun beberapa waktu belakangan.

Enny mengatakan aktivitas kurir memang mengalami peningkatan tetapi porsi dari penjualan melalui online sebagai mitra dari ekspedisi masih kurang dari 2 persen. Dia pun kemudian membenarkan memang ada penurunan daya beli sampai di bawah 40 persen.

“Indikasinya porsi kontribusi pengeluaran untuk makanan itu tinggi sekali, yang tadinya 26 persen sudah mencapai 38 persen. Sehingga menggerus pengeluaran lain yang nonmakanan,” kata Enny, dalam Metro Pagi Primetime, Kamis 5 Oktober 2017.

Menurut Enny jika dikatakan bahwa pengeluaran pangan itu stabil, memang benar. Namun kestabilannya termasuk tinggi dan menghabiskan pengeluaran penduduk yang ada di 40 persen ke bawah tersebut.

Hal kedua yang mengonfirmasi bahwa adanya penurunan daya beli adalah pertumbuhan sektor riil dalam negeri seperti berada di titik nadir. Melihat industri kreatif hanya tumbuh 2,5 persen bahkan manufaktur yang lebih besar hanya mampu mencapai angka pertumbuhan 4 persen saja.

Memang, kata Enny, PPN dan penjualan online mengalami peningkatan namun yang menjadi kekhawatiran kemudian adalah antara konsumsi dan produksi yang mestinya stabil justru tidak seimbang.

Dalam ekonomi, ketika konsumsi ditopang oleh produksi dengan pola yang seimbang maka akan menghasilkan kesempatan kerja yang kemudian bisa dijadikan sebagai sumber untuk konsumsi kembali karena menghasilkan pendapat.

Tetapi jika produksi turun walaupun konsumsi masih tinggi bukan tidak mungkin pasar dalam negeri akan dibanjiri barang impor yang sangat murah hanya untuk memenuhi permintaan. Ketika hal ini terjadi, akan menimbulkan masalah yang lebih besar.

“Makanya yang kita lihat sekarang bukan perdebatan penurunan daya beli atau tidak, karena penurunan itu terminologinya kalau minus buat dunia usaha. Misalnya yang tadinya untung 10 persen menjadi hanya 8 persen, menurut pemerintah itu masih positif hanya jumlahnya saja yang berkurang,” jelas Enny.

Sumber : metrotvnews.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: