CEO DEL Creco Advisory
Kondisi ekonomi kita saat ini memang tidak krisis, tapi kritis. Tekanan terhadap rupiah rasanya sulit dibendung. Kemungkinan besar dollar Amerika Serikat (AS) merangkak terus ke arah Rp 15.000 karena beberapa hal.
Pertama, adanya debt overhang berupa hot money yang jumlahnya kemungkinan sekitar US$ 45 miliar. Hot money ini sudah siap-siap meninggalkan Indonesia mengingat telah mulai ketatnya likuidititas dollar AS dengan rating Triple-B dari 3,4% ke 4% sepanjang tahun ini. Sekalipun The Fed menunda kenaikan suku bunga di September ini, likuiditas dollar AS itu sendiri mulai mengering di pasar uang global.
Kedua, outlook ekonomi kita makin hari makin memburuk. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) telah dimulai dari sektor manufacturing sampai perkebunan. Pertumbuhan ekonomi kita di tahun 2015 ini mungkin jatuh ke bawah 4%, mengingat pertumbuhan kredit diperkirakan hanya sebesar 10%. Dengan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sebesar 4,2, pertumbuhan ekonomi sangat sulit melampaui angka 4%, apalagi bila serangan El Nino mengeringkan pasokan bahan-bahan pokok.
Disamping itu, harga-harga komoditas sebagai andalan penghasil dollar AS kita menunjukkan tren menukik. Bukan tidak mungkin, neraca pembayaran kita kembali mengalami defisit. Singkatnya, hampir tak ada harapan rupiah akan menguat terhadap dollar AS. Yang sangat mungkin terjadi ialah dollar AS menuju ke arah Rp 15.000. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) hanya akan bisa memandang pelemahan tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa karena tidak ada istrumennya.
Semua berawal dari krisis sub-prime di tahun 2008 di AS. Bank Sentral AS, The Fed, memompa uang ke dalam ekonominya untuk menahan Great Recession menjadi Great Depression. Dollar AS pun mengembara ke seluruh penjuru dunia lewat carry-trade, yaitu meminjam dalam mata uang yang berbunga rendah dan menginvestasikannya ke dalam mata uang yang menghasilkan yield yang lebih tinggi. Dollar AS itu pun mengalir masuk ke emerging markets, termasuk Indonesia.
Di samping itu, China melakukan stimulus besar-besaran untuk menopang ekonominya hingga mencapai pertumbuhan sebesar 12% di tahun 2010. Akibat stimulus ini dan melimpahnya dollar AS di pasar global, harga-harga komoditas pun meledak membentuk super-cycle. Pertumbuhan ekonomi kita pun melesat ke atas 6,7% di tahun 2011 dan 6,5% di tahun 2012. Blessing in disguise.
Ketika di tahun 2013 kita mengalami defisit neraca perdagangan sebesar 4,4% dari gross domestic product (GDP) dan inflasi mencapai 8,4%, dollar AS mulai terbang menembus angka Rp 10.000. BI langsung melakukan pengetatan dengan mengangkat BI rate dari 5,75% ke 7,5%. Inilah awal bencana kita. BI mengira bahwa satu peluru dapat menembak tiga target sekaligus, yaitu defisit perdagangan, inflasi, dan dollar AS.
Hasilnya, per hari ini ialah dollar AS telah melampaui Rp 14.000, inflasi kemungkinan kembali ke 8%, dan tak tertutup kemungkinan kurs dollar AS melewati angka Rp 15.000, inflasi bisa capai doubledigit yang akan menggerogoti pertumbuhan ekonomi kita. Pengetatan BI telah menyebabkan Adverse Feedback Loop.
Karena panik, BI meluncurkan peraturan-peraturan yang malah memperlemah rupiah. Larangan menggunakan dollar AS untuk transaksi dalam negeri hanya akan memperlemah ekonomi kita karena menimbulkan currency mismatch yang meningkatkan risiko bisnis. Tingginya risiko bisnis tentu akan memperlemah bisnis sendiri yang pada akhirnya memperlemah ekonomi kita dan tentu memperlemah daya beli rupiah.
Apa yang harus dilakukan? Dalam jangka pendek, tak ada instrument atau kebijakan apapun yang dapat memperkuat rupiah. Tekanan eksternal makin hari makin tinggi karena menyusutnya pasokan dollar AS. Tekanan internal ialah mulai maraknya PHK yang akan menggerogoti ekonomi kita dan memicu capital flight.
Bila dalam jangka pendek kita hanya bisa pasrah seperti yang tersirat dalam ucapan menteri keuangan kita: “Kita serahkan pertumbuhan ekonomi kita pada Tuhan,” sebaiknya pemerintah berpikir jangka panjang. Pemerintah sesegera mungkin harus memikirkan Radical Fundamental Reform, yaitu melakukan deregulasi, debirokratisasi, dan reformasi struktural dengan membentuk Tim Reformasi Ekonomi yang terdiri atas para professional yang mengerti masalah-masalah spesifik di lapangan, seperti masalah perizinan, pembebasan tanah/lahan, pengetahuan yang minim personel-personel pemerintah daerah, lokasi investasi yang baik, sistem infrastruktur yang tepat, dan lain-lain.
Tim ini bertugas memberikan masukan kepada pemerintah mengenai langkah-langkah yang dibutuhkan untuk segera membenahi ekonomi kita yang kedodoran, mengundang foreign direct investment, melakukan due dilligence dan feasibility study atas potensi setiap daerah, serta merancang pola pendanaan investasi.
Tanpa melakukan radical fundamental reform, termasuk pemangkasan APN dan penurunan pajak, kita akan mengalami krisis yang jauh lebih panjang dari krisis moneter 1997-1998. Sebab, ekonomi global sedang memasuki secular stagnation, yaitu periode yang sangat panjang dimana ekonomi global akan mengalami pertumbuhan sangat rendah dan deflasi.
Masa kritis ini akan menjadi krisis dalam waktu dekat. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah penguatan dollar AS. Bila dalam jangka pendek kita hanya bisa berpasrah kepada Tuhan, mungkin Tuhan akan berbisik “Pikirkan jangka panjang saja, Bro”.
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak


Tinggalkan komentar