Pasar Sepi, Emiten Properti Kompak Memangkas Target

kantor

Jakarta. Sejumlah emiten properti kompak memangkas target pra-penjualan alias marketing sales tahun ini. Lesunya perekonomian menekan permintaan properti, terutama segmen perkantoran dan residensial kelas menengah atas.

Emiten yang baru menurunkan target adalah PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). Pengembang proyek Pakuwon City ini merevisi target marketing sales dari Rp 3,4 triliun menjadi Rp 3 triliun. PWON menunda peluncuran gedung perkantoran di Kota Kasablanka hingga tahun depan.

Sebelumnya, empat emiten sudah melakukan langkah serupa. Agustus lalu, PT Alam Sutera Tbk (ASRI) memangkas target marketing sales sebesar 22,4% menjadi Rp 4,5 triliun. Lalu, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menurunkan target dari Rp 10,9 triliun menjadi Rp 9,48 triliun.

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mengurangi target dari Rp 5,5 triliun ke Rp 4,5 triliun. Dan tak tanggung-tanggung, PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA) menurunkan marketing sales dari Rp 2 triliun menjadi Rp 200 miliar. GWSA melakukan ini lantaran pasar perkantoran sepi. Tahun ini perseroan hanya mengandalkan penjualan gedung perkantoran.

Tiga emiten lain juga berniat menurunkan target tahun ini, yaitu PT Modernland Realty Tbk (MDLN), PT Metropolitan Land Tbk (MTLA), dan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN). Ketiganya berencana menunda peluncuran beberapa proyek baru.

Asal tahu saja, per Agustus 2015, perolehan marketing sales APLN masih Rp 1,4 triliun atau 21,5% dari target Rp 6,5 triliun. “Kemungkinan target turun 50% dan peluncuran proyek baru bisa ditunda,” kata wibisono, hubungan investor APLN baru-baru ini.

Tapi, ada emiten yang konsisten. Misalnya, PT Intiland Development Tbk (DILD) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). DILD optimis, target tahun ini bisa tercapai dengan meluncurkan proyek baru di sisa tahun ini.

Analis Ciptadana Securitas Maula Adini Putrid menilai wajar emiten memangkas target di tengah perlambatan ekonomi. Tekanan industri properti masih berlanjut hingga semester I-2016. “Penjualan baru membaik jika bi menurunkan suku bunga,” kata Maula.

Pada sembilan bulan pertama tahun 2015, banyak industri menunda ekspansi, sehingga penjualan perkantoran dan kawasan industri seret. Investor juga menahan diri. Maka, segmen yang paling tertekan adalah perkantoran, kawasan industri dan residensial menengah atas.

Maula merekomendasikan beli BSDE dan PWON dengan target harga masing-masing Rp 1.800 dan Rp 500. “Penjualan BSDE masih bagus, sedangkan PWON punya penopang berupa recurring income yang besar,” ungkapnya.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: