Cuan Jualan Bensin Belum Menutup Kelesuan Minyak

JAKARTA. Penyusutan harga minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir memang bikin tekor pengusaha hulu migas. Tapi sebaliknya perusahaan yang berbisnis di hilir yakni penjual bahan bakar minyak (BBM) bisa untung besar lantaran tak ada penurunan harga jual meski harga bahan bakunya turun.

Keuntungan ini besar ini bisa diraih oleh PT.Pertamina di sektor hilir. Selain pertamina, pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) juga menikmati kondisi ini.

Sebagai gambaran selama ini SPBU menikmati fee penjualan BBM jenis Premium yakni sebesar Rp 230 per liter. Sementara untuk produk Pertalite sekitar Rp 200 per liter dan fee untuk jualan Pertamax mencapai Rp 375 per liter. “Setiap penjualan BBM pasti mendapatkan keuntungan,” kata Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi, Rabu (27/1) saat diminta tanggapan soal bisnis penjualan BBM saat harga minyak turun.

Apalagi penjualan BBM yang dilakukan kepada industri. Menurut Eri solar industri ini marginnya lebih gede ketimbang menjual BBM eceran.

“Secara nasional konsumsi rata-rata per tahun solar industri kurang lebih 30 juta KL, digabung sama solar transportasi jadi 40 juta KL. Kalau premium hanya 20-an juta KL. Pertamax konsumsinya masih kecil tidak sampai 1 juta KL setahun,” katanya.

Klaim belum untung

Hanya saja, Senior Vice President Marketing Niaga Pertamina, Iskandar menyanggah analisa Eri. Pertamina merasa tidak lantas mendapatkan untung besar dari penjualan BBM saat harga minyak mentah turun. Sebab Pertamina merupakan perusahaan migas yang bisnisnya bergerak mulai dari hulu hingga ke hilir.

Iskandar mengklaim kondisi saat ini, penghasilan Pertamina dari hulu masih minus. “Untung besar dari sisi mana? Hulunya kalau harga jatuh tergerus. Di sisi lain, volume penjualan di hilir belum ada peningkatan,” katanya kepada KONTAN, Rabu (27/1).

Menurut dia, dengan situasi makro ekonomi yang belum tumbuh ini, membuat volume penjualan BBM belum juga meningkat. Bahkan untuk penjualan solar industri belum mengalami peningkatan karena bisnis masih lesu.

Demikian pula dengan penjualan Premium, Pertalite, dan Pertamax yang juga belum meningkat secara keseluruhan. “Januari juga belum selesai. Nanti kami lihat Februari akhir akan kami analisis,” jelas Iskandar.

Perlu diketahui, pada tahun lalu rata-rata penjualan BBM jenis Premium sekitar 81.000 KL per hari, Pertamax rata-rata 7.000 KL per hari, dan Pertalite 4.000 KL per hari. Saat ini penjualan Premium hanya 75.000 KL per hari, Pertamax 8.000 KL per hari, sementara Pertalite penjualan per harinya masih dihitung.

Namun pada periode Juli-November 2015, penjualan Pertalite capai 270.000 KL. Dengan penjualan tersebut, Pertamina mengklaim belum mendapatkan untung besar. “Kami sesuaikan dengan keekonomian yang ada, maka hanya impas saja,” terang Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro.

Wianda bilang, Pertamina tidak bisa membeberkan harga dasar BBM, seperti halnya badan usaha lain yang juga menjual produk yang sama. Namun, turunnya harga minyak dunia, tidak lantas membuat indeks pasar produk langsung turun drastic. “Kami kan baru saja menurunkan harga BBM,” katanya.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: