Sistem Keuangan Oke, Fiskal Terhambat

JAKARTA – Pelambatan konsumsi rumah tangga dan belum bergeraknya sector swasta, menurut Bank Indonesia (BI), tidak mempengaruhi stabilitas sistem keuangan dalam negeri. Tapi hal itu berpengaruh besar di sisi fiskal.

Gubernur BI Agus Martowardjojo bilang, hasil kajian yang dilakukan oleh BI menunjukkan masih kuatnya stabilitas sistem keuangan ini tampak dari ketahanan industry perbankan yang masih bisa menyerap potensi risiko, khususnya risiko kredit, pasar, dan likuiditas.

Sektor industry keuangan nonbank juga masih menunjukkan kemampuan beradaptasi baik di tengah peningkatan risiko ekonomi. Peningkatan risiko di sector tersebut meningkat sejalan dengan tingginya risiko pasar keuangan, yaitu turunnya pembiayaan pasar uang, khususnya obligasi.

Menurut Agus, pelambatan sector rumah tangga, ditunjukkan dari makin lambatnya kredit rumah tangga di perbankan. Sementara di sector korporasi mencatat pelambatan kredit dan peningkatan non performing loan (NPL). Kondisi itu terjadi sebagai dampak dari pelambatan kinerja korporasi dan rendahnya daya beli masyarakat.

Pelambatan di sector rumah tanggan dan korporasi lebih berdampak ke kinerja pemerintah. Agus bilang, pelambatan ekonomi ini membuat penurunan kinerja korporasi nonkeuangan untuk memenuhi kewajibannya. “Ini membawa dampak perambatan pada terbatasnya ruang fiskal pemerintah karena hasil penerimaan pajak jadi menurun,” kata Agus, saat peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan, Senin (30/5).

Dalam laporan itu, Agus bilang, sistem Keuangan Indonesia saat ini berada pada kondisi stabil seiring dengan kondisi permodalan dan likuiditas yang baik.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan melihat, indicator fundamental ekonomi Indonesia saat ini memang menunjukkan pelambatan. Menurut Anton, pertumbuhan produk domestic bruto (PDB) pada kuartal pertama tahun ini yang hanya mencapai 4,92% menunjukkan sedang terjadi pelambatan ekonomi.

Rendahnya deficit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) jug lebih disebabkan oleh penurunan kinerja ekspor dan impor.

Tak hanya itu, pelambatan kinerja korporasi juga ditunjukkan oleh data utang luar negeri swasta (ULN) yang lebih banyak untuk pembayaran utang dibandingkan menarik utang baru. “Sekarang ini sepertinya BI mulai sadar, berani untuk mengurangi atau menurunkan suku bunga, dan lebih memperhatikan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya melulu beralasan inflasi,” jelas Anton.

Sebelumnya BI telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 5,2%-5,6% menjadi 5%-5,4%.

Sumber: Kontan, Selasa 31 Mei 2016

Penulis: Adinda Ade Mustami

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: