Lagi, Impor Jadi Solusi Daging Sapi

JAKARTA – Sekali lagi, impor daging sapi menjadi jalan pintas menekan harga daging sapi di dalam negeri. Targetnya, gerojokan daging sapi impor mampu menekan harga daging sapi pada puasa dan Lebaran kali ini hingga ke Level Rp 80.000 per kilogram, sesuai titah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Selain mengimpor daging beku sebanyak 27.400 ton, pemerintah akan menambah kuota impor sapi bakalan pada tahun ini, menjadi 700.000 ekor. Semula, kuota impor sapi bakalan yang dirilis pemerintah pada awal tahun ini sebanyak 600.000 ekor. Itu artinya, kuota impor sapi bakalan ditambah sebanyak 100.000 ekor.

Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan, berdasarkan hitungan pemerintah, kebutuhan sapi bakalan tahun ini memang sekitar 700.000 ekor. Namun dia belum bersedia memerinci mengenai rencana penambahan kuota impor sapi bakalan tersebut. “Kuota yang 600.000 ekor itu akan kami evaluasi lagi, tapi saya belum tahu persis apakah sudah ada keputusan menambah 100.000 ekor sapi bakalan lagi,” ujarnya, Kamis (2/6).

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang sebelumnya bersikukuh membatasi impor sapi bakalan, kini melunak. Menurutnya, demi menekan harga daging sapi, solusinya adalah dengan membuka kean impor jika memang kuota impor yang ditetapkan saat ini tidak mencukupi kebutuhan. Amran juga menandaskan siap menekan tambahan kuota kebutuhan daging sapi untuk puasa dan Lebaran jika memang dibutuhkan.

Tak pengaruhi harga

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf menilai, total jumlah impor sapi bakalan sebanya 700.000 ekor tahun ini sesuai dengan perhitungan awal yang dibicarakan dengan pemerintah. “Bahkan dari analisis  awal mencapai 800.000 ekor sapi bakal harus impor. Namun karena gengsi, pemerintah minta cuma 600.000 ekor,” ujarnya.

Rochadi mengatakan, peningkatan impor sapi bakalan tahun ini tidak lagi berdampak pada penurunan harga daging di pasaran. Bahkan, dibukanya kuota impor daging sampai 27.400 ton tidak mampu menekan harga daging di pasaran. Pasalnya, kebijakan ini baru dilakukan sekarang dan terkesan mendadak.

Dia menyebut, kebijakan impor ini justru merugikan peternal local karena pemerintah tidak melindungi peternak local karena pemerintah tidak melindungi peternak local karena pemerintah tidak melindungi peternak local dari serbuan impor sapi dan daging sapi.

Asnawi, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) melihat bahwa gerojokan daging beku impor tidak akan efektif menekan harga jugal di pasaran. Sebab, daging tersebut diimpor dan dijual langsung oleh BUMN tanpa melalui pasar tradisional.

Asnawi menandaskan, daging sapi segar yang dijual di pasar bakal tetap bercokol di atas Rp 100.000 per kg, karena harga sapi hidup relative tinggi yakni Rp 42.000-Rp 45.000 per kg. Pedagang membeli karkas di harga Rp 88.000 per kg. “Tak mungkin menjual daging sapi di bawah harga pembelian tersebut,” tuturnya.

Apalagi berdasarkan data APDI, tahun sebelumnya, 20% konsumen yang menyerap daging beku impor. Sedangkan 80% tetap memilih daging segar di pasar tradisional, meski harganya lebih mahal.

Asnawi berdalih, masyarakat Indonesia sudah cerdas memilih daging sapi. Selain lebih segar, daging beku juga memiliki kandungan lemak sekitar 5%-15% dalam tiap kg daging yang dijual dan menyusut sekitar 10% dari berat semula. Itulah penyebab daging beku sepi peminat.

Sumber: Kontan, Jumat 3 Juni 2016

Penulis: Noverius Laoli

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: