Meragukan Manfaat saat Anggaran Dihemat

Pemerintah memangkas anggaran revitalisasi pasar tradisional

Niat pemerintahan Joko Widodo untuk membangun dan merevitalisasi pasar tradisional berjalan tersendat. Penyebabnya, apalagi kalau bukan penerimaan negara yang seret hingga pengeluaran kementerian/lembaga pun harus diirit-irit sepanjang 2016.

Layaknya kementerian dan lembaga pemerintah lain, Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga tak lolos dari gunting pengurangan anggaran. Pagu belanja Kemendag dikurangi hingga Rp 483 miliar.

Nah, revitalisasi pasar termasuk program Kemendag yang mengalami pengurangan anggaran itu. Dalam rapat kerja dengan komisi VI DPR pekan kedua Bulan Juni lalu, Menteri Perdagangan Thomas Lembong menyebutkan ada 52 pasar tradisional yang belum mendapatkan anggaran revitalisasi. “Dari target 220 pasar, sudah 168 pasar yang jalan. Penghematan ini memberi dampak ke program revitalisasi,” tutur dia.

Catatan saja, revitalisasi pasar termasuk dalam sembilan program prioritas Pemerintah Joko Widodo, yang populer disebut Nawacita. Target yang dipasang pemerintah Jokowi lumayan ambisius, yaitu membangun dan merevitalisasi hingga 5.000 pasar selama lima tahun. Jika dibagi rata, harus ada 1.000 pasar yang dibangun dan direvitalisasi setiap tahunnya agar target Nawacita tercapai.

Sekretaris Jenderal Kemendag Srie Agustina menerangkan, alokasi anggaran untuk dalam program pembangunan dan revitalisasi pasar tradisional berasal dari Tugas Perbantuan (TP) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Untuk tahun ini, pembangunan pasar ditargetkan sebanyak 1.000 unit. Perinciannya, 220 pasar akan dibangun melalui dana TP dan 695 pasar dengan anggaran DAK. “Pemotongan anggaran ini kami upayakan  tak akan menggangu output. Yang baru jalan ada 168 pasar, nah, 52 pasar akan tetap jalan, namun anggarannya berasal dari tahun depan. Ini sudah jadi usulan kami,” jelas Srie.

Usul tersebut, imbuh Srie, telah disepakati Kemendag, Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Keuangan. Target pembangunan 52 pasar melalui dana TP akan dilaksanakan pada tahun anggaran 2017.

Pasar yang telah berdiri dengan menggunakan dana TP sebanyak 168 pasar. Lalu, sebanyak 709 pasar di kabupaten/kota memanfaatkan DAK. Alokasi dana TP untuk 168 pasar tradisional tersebut tersebar di 33 provinsi yang mencakup 166 kabupaten/kota.

Untuk tahun 2017, rencana alokasi pembangunan dan revitalisasi pasar mengacu ke hasil pertemuan tiga lembaga tadi. Rinciannya, sebanyak 272 pasar akan dibangun dengan memanfaatkan TP dan 740 pasar menggunakan DAK.

Banyak mudharat

Pelaku pasar justru menyambut baik rencana pengetatan anggaran revitalisasi pasar. “Mumpung sedang ada pengetatan anggaran, sebaiknya di evaluasi dulu, bagaimana hasilnya dari program ini,” tutur Abdullah Mansuri, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi).

Dia menuding program ini justru menambah sengsara para pedagang di pasar tradisional. Hasil survei Ikappi ke pasar-pasar yang telah direvitalisasi atau baru dibangun, program itu tak banyak membawa manfaat bagi pedagang. “Kebanyakan mudharatnya karena menggusur para pedagang di pasar tradisional. Pasar juga jadi sepi,” tutur dia.

Maklumlah, yang namanya revitalisasi biasanya kerap dibuntuti dengan relokasi pasar. Ada juga pasar yang mengalami revitalisasi, namun pembangunannya tidak pernah tuntas. ”Pasarnya dibangun nggak kelar-kelar, kan kasihan pedagang dan pembeli enggak nyaman. Jadinya, sepi pembeli,” tutur Abdullah.

Dia menyebut tiga contoh pasar yang jadi sepi pembeli setelah menjalani revitalisasi. Pertama, Pasar Ikan di Pangkal Pinang yang sudah mendapatkan dana revitalisasi Rp 5 miliar. Kedua, Pasar Genteng di Banyuwangi yang mangkrak karena anggarannya kurang. Ketiga, Pasar Sentolo di Jawa Tengah yang jadi sepi karena lokasi pasar pindah. Padahal, pembeli lebih suka datang ke tempat lama.

Seorang pedagang di Sleman, Yogyakarta, Nimas, mengaku penghasilannya turun sekitar 30% sampai 40% setelah pasar mengalami revitalisasi. Nimas adalah pedagang di Pasar Prambanan yang direvitalisasi dan direlokasi sekitar 3 kilometer dari lokasi pasar lama.

Lokasi relokasi yang jauh dari jalan besar menjauhkan pasar dari pembeli. Selain itu, pasar burung dan pasar ayam tetap di pasar lama, “Padahal yang bikin pasar ramai ya kalau pasaran burung dan ayam,” jelasnya.

Nimas harus bersabar menanti revitalisasi Pasar Prambanan usai, yang sekitar setahun lagi. “Semoga nanti lebih baik. Katanya kalau pasar rapi, wisatawan yang datang ke Candi Prambanan, akan tertarik untuk mampir,” tutur dia.

Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman Tri Endah Yitnani mengakui penurunan pendapatan pedagang Pasar Prambanan akibat relokasi. “Itu memang dampak. Tapi ini lebih untuk kepentingan jangka panjang,” ujar dia.

Mudah-mudahan saja para pedagang tidak harus menanti terlalu lama untuk menikmati berkah dari revitalisasi.

Sumber: Tabloid Kontan 27 Juni – 03 Juli 2016

Penulis: Merlinda Riska, F.Firlana

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: