Triliunan Dana Pertanian Tak Sepadan

Hasil gambar untuk Dana pertanianJAKARA – Dana pertanian disoal. Adalah Menko Perekonomian Darmin Nasution menyoal puluhan triliun rupiah dana pemerintah untuk menngkatkan produksi pertanian belum mampu mendongkrak produksi pertanian ikut membesar. Faktanya: hasil program pertanian kurang memuaskan.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, pencapaian produksi pertanian harus diakui belum maksimal hingga saat ini. Padahal, anggaran negara yang dialokasikan untuk sektor ini sekitar Rp 50 triliun tiap tahun.

Berdasarkan data dana pertanian yang dihimpun KONTAN, tahun 2015 saja, dana pertanian untuk tiga kegiatan, yakni subsidi pupuk, percetakan sawah, dan irigasi, menghabiskan lebih dari Rp 30 triliun, dana ini membengkak jadi lebih dari Rp 40 triliun pada tahun ini.

Jika ditambah dengan dana untuk subsidi benih, bantuan alat, dan mesin pertanian (alsintan), serta penyediaan jasa penyuluh pertanian, dana yang dikeluarkan pemerintah untuk pertanian bisa lebih besar lagi.

Namun, hasil yang dirasakan itu belum memuaskan.Tolak ukur untuk menilainya adalah harga pangan yang menikmati dana pertanian ini masih relatif tinggi, bahkan masih harus diimpor. Makanya, perlu ada perubahan kebijakan anggaran dalam bidang pertanian agar pemanfaatan anggaran pertanian dapat memberikan hasil maksimal.

Meski Darmin mengakui ada peningkatan, tapi hasilnya tidak sepadan dengan besaran biaya yang telah digelontorkan pemerintah. “Karena itu dibutuhkan one map policy atau kebijakan satu peta seperti mendekatkan irigasi dengan sawah. Sebab, selama ini banyak irigasi yang dibangun tapi tidak berdekatan dengan sawah,” ujar Darmin, Senin ( 28/11) lalu.

Namun sayang, Darmin tidak menjelaskan lebih rinci perubahan kebijakan yang diusulkannya. Kendati begitu, ia bilang dalam kacamata pemerintah, selama ini pembangunan infrastruktur di bidang pertanian tidak tersambung satu sama lain. Salah satunya adalah pembangunan irigasi yang jalusnya tidak berdekatan dengan sawah, sehingga upaya pengairan justru tidak tercapai.

Contoh lain yang menyedot anggaran terbesar adalah subsidi pupuk. Menurut Darmin, anggaran pupuk Rp 30 triliun, tahun 2016 ini tidak mencerminkan adanya perbaikan distribusi dan tepat sasaran karena terbukti masih ada pupuk palsu  yang diterima petani.

Dalam jangka panjang

Menanggapi tudingan tersebut, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kemtan) Hasil Sembiring mengatakan, anggaran di bidang pertanian selama ini telah mendorong kenaikan luas lahan tanam padi yang ada 2015 mencapai 343.000 hektare (ha) dan pada tahun 2016 ini naik lagi menjadi 990.000 ha.

Sementara itu, Hasil mengklaim, Kemtan juga menganggarkan Rp 12,3 triliun untuk merehabilitasi irigasi tersier seluas 3,05 juta ha, penyediaan alat mesin pertanian sebanyak 215.000 unit. “Penerapan  berbagai terobosan tersebut menyebabkan kinerja produksi pangan 2015-2016 terus meningkat, produksi padi pada 2015 naik 6,64% dan pada 2016 naik lagi sebesar 4,96%,” klaimnya.

Hasil menjelaskan, dalam dua tahun terakhir ini, produksi padi naik 8,4 juta ton atau secara keekonomian setara Rp 38,5 triliun. Sementara produksi jagung naik 4,2 juta ton setara senilai Rp 15,9 triliun. Menurutnya, sebagian besar anggaran pemerintah itu digunakan untuk pembangunan infrastruktur pertanian yang dampaknya dapat dirasakan dalam beberapa tahun ke depan dan bukan pada tahun yang sama.

Penulis: Noverius Laoli

Sumber: Harian Kontan, 1 Desember 2016

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: