PPN Rokok Menjadi 9,1%

9aded-tax2bamnesty-1

Gaprindo menuding, kenaikan tarif PPN itu lebih tinggi dari kesepakatan sebesar 8,9%

JAKARTA. Industri rokok dalam negeri kian terbatuk-batuk. Pasca Mahkamah Agung (MA) mencabut Peraturan Menteri ( Permen) perindustrian No. 63/2015 tentang peta jalan (roadmap) Industri Hasil Tembakau tahun 2015-2020 pada Desember 2016 lalu. Kini industri rokok berhadapan dengan kenaikan tarif pajak.

Merujuk Peraturan Mentri Keuangan (Menkeu) No 174/PMK 03/2016 pemerintah menaikkan tarif pajak pertambahan  nilai (PPN) atas penyerahan hasil tembakau dari semula 8,7% jadi 9,1%.

Aturan yang diteken Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 28 Desember 2016 tersebut berlaku mulai 1 Januari 2017. Nah, kabar tak sedap ini yang membuat pelaku industri rokok gerah.

Muhaimin Moefti, Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia  (Gaprindo), bilang , kenaikan tarif PPN itu  melenceng dari kesepakatan semula. Sebab, dalam kesepakatan pemerintah dengan pelaku industri rokok sebelumnya, PPN disepakati naik dari 8,7% menjadi 8,9%. “Waktu pembahasan, tarif PPN sebesar 9,1% disepakati berlaku  tahun 2018, bukan tahun ini,” kata Muhaimin kepada KONTAN, Kamis (5/1).

Ia menuding, Kebijakan tersebut bentuk inkonsistensi pemerintah yang membuat kebijakan tak sesuai kesepakatan. Merujuk Beleid tersebut, kenaikan PPN dilakukan untuk optimalisasi penerimaan perpajakan  pemerintah. Tak hanya kenaikan PPN yang bikin Muhaimin gundah gulana, tarif cukai rokok tahun 2017 rata-rata sebesar 10,54% juga membuat pelaku industri pusing

Soal sikap apa yang akan ditempuh, Muhaimin bilang akan melakukan pertemuan dengan anggotanya. Sejauh ini, pihaknya tak memiliki pilihan selain ikut aturan tersebut. “Bagaimana lagi, mau tidak mau memang kami harus ikuti,” ujarnya.

Suryanto Yasaputra, Direktur Pemasaran PT Wismilak Inti Makmur Tbk, bilang, dampak kenaikan PPN tersebut memberatkan konsumen. Mau tak mau pelaku industri rokok membebankan ke konsumen. “Karena matgin rokok itu sangat ketat, sedangkan setiap periode selalu ada kenaikan cukai dan bahan baku” ujar Suryanto, kepada KONTAN (5/1)

Untuk itu Suryanto memastikan, akan ada kenaikan harga rokok Wismilak, menyusul kenaikan PPN. Sayang, Suryanto belum mau menyebut besar kenaikan harganya.

Tak ada target produksi

Asal tahu saja, pada Desember 2016 lalu, MA telah mencabut Permen Perindustrian Nomor 63/2015 tentang Roadmap Industri Hasil Tembakau periode 2015 sampai 2020. Akibat pencabutan dari roadmap industri tersebut, Kementrian Perindustrian sebagai kementrian teknis industri tidak memiliki lagi acuan atau rencana pertumbuhan dari produksi rokok.

Kemprin juga tidak bisa lagi menentukan berapa target dan jumlah batang rokok yang akan diproduksi tahun ini dan nanti. “Hitungannya nanti ada di Kementrian keuangan,” kata Willem

Kinerja Penjualan Emiten Rokok (Dalam triliun rupiah)

Nama Perusahaan

Kuartal III-2016

Kuartal III-2015

Perubahan

PT Gudang Garam Tbk

56,21

51,01

10,20%

PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk

47,34

43,74

8,20%

PT Bentoel International Investama Tbk

14,3

12,29

16,40%

PT Wismilak Inti Makmur Tbk

1,29

1,35

-4,80%

Penulis: Umi Kulsum, Agung Hidayat

Sumber: Harian Kontan, Jumat 6 Januari 2017

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Pemeriksaan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: