Kambing Hitam Kemerosotan Ekonomi

Perekonomian nasional saat ini sedang mengalami kemerosotan, dan kita semua sepakat tentang hal itu. Pelemahan ekonomi nasional yang terjadi sejak 5 tahun belakangan ini dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kalangan pengusaha kecil dan menengah mengeluh tentang turunnya daya beli masyarakat. Kalangan buruh mengeluh tentang upah yang stagnan dan ancaman PHK karena lesunya ekonomi di samping biaya kebutuhan hidup yang semakin meningkat.

Banyak para elite ekonomi dan politik yang panik lalu berdalih sambil secara eksplisit mengambinghitamkan bahwa pelemahan ekonomi nasional lima tahun belakang ini adalah akibat dari pelemahan ekonomi global. Tidak dapat dipungkiri bahwa ekonomi global saat ini memang cenderung melemah. Pertumbuhan ekonomi global melemah dari 2,63% (2015) menjadi 2,4% (2016).

Sedangkan untuk Eurozone yang memiliki proporsi produk domestik bruto (PDB) terbesar kedua di dunia, kondisinya lebih memilukan lagi. PDB Eurozone turun dari 2,0% (2015) menjadi 1,6% (2016). Di samping itu pertumbuhan ekonomi china juga sama, melambat dari 6,9% (2015) menjadi 6,7% (2016). Karena itu, sepertinya ekonomi global sepertinya adalah sasaran yang empuk untuk dijadikan kambing hitam pelemahan ekonomi nasional.

Memang pertumbuhan ekonomi nasional tidak lepas dari pengaruh perekonomian global, terlebih lagi dimana hubungan perdagangan beserta intensitasnya semakin meningkat akibat kemajuan teknologi, komunikasi dan transportasi. Namun, mengambinghitamkan perekonomian global sebagai sebagai alasan lemahnya perekonomian nasional sembari “berpasrah” seolah kita tidak dapat berbuat sesuatu apapun agar ekonomi nasional dapat tetap bertumbuh di tengah kondisi itu adalah suatu hal yang kurang bijaksana.

Berkaca dari Vietnam

Sepatutnya, karena pelemahan ekonomi global sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini, pemerintah dan para elite ekonomi dapat memprediksi dan mempersiapkan kebijakan yang dapat menguatkan perekonomian nasional di tengah semakin anjloknya pertumbuhan ekonomi global.

Kalau kita melihat dengan kacamata yang lebih wide, maka akan terlihat fakta bahwa tidak semua emerging economies mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi meskipun di tengah merosotnya ekonomi global. Contohnya adalah Vietnam, Filipina dan India. Ketiga Negara ini PDB nya tetap tumbuh meskipun ekonomi global sedang memburuk. PDB Vietnam naik dari US$ 155,8 miliar pada 2012 menjadi US$ 186,2 miliar di 2014, dan terus meningkat hingga US$ 193,6 miliar pada 2015.

Contoh lain adalah Filipina yang perekonomiannya tetap bertumbuh di tengah merosotnya perekonomian global, PDB Filipina meningkat dari US$ 250,1 miliar pada 2012 menjadi US$ 284,4 miliar di 2014, dan semakin melonjak hingga pada 2015 menjadi US$ 292,4 miliar. Begitu juga India yang juga mengalami pertumbuhan PDB dari US$ 1.828,9 miliar pada tahun 2012 menjadi US$ 2.042,4 miliar di 2014, dan pada 2015 mencapai US$ 2.095,4 miliar.

Hal ini bertolak belakang dengan kondisi Indonesia yang PDBnya terus melemah. PDB Indonesia merosot dari US$ 917,87 miliar pada 2012 menjadi US$ 912,52 miliar di 2013. Lalu terus melemah pada 2014 menjadi US$ 890 miliar, hingga menurun lagi pada 2015 menjadi US$ 861,93 miliar.

Fakta bahwa pertumbuhan ekonomi di Negara berkembang lainnya yang terus meningkat di tengah lemahnya perekonomian global membuka mata kita bahwa lemahnya ekonomi global saat ini tidak dapat menjadi alasan yang sangat kuat apalgi menjadi kambing hitam terhadap lemahnya perekonomian nasional.

Seyogyanya para elite ekonomi dapat mengurangi dampaknya terhadap perekonomian nasional dengan kebijakan ekonomi yang dapat memperkuat perekonomian nasional di tengah badai ekonomi global saat ini atau lebih tepatnya dengan memberikan stimulus pada ekonomi nasional.

Namun disayangkan beberapa kebijakan pemerintah justru bersifat destimulus ekonomi yang dapat berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap daya beli masyarakat. Contohnya menghapus subsidi BBM dan menaikkan tarif dasar listrik, dampak langsungnya adalah mengurangi consumable income masyarakat hingga ratusan triliun rupiah. Dampak tidak langsungnya adalah dengan melalui inflasi yang meningkat maka akan mengurangi daya beli masyarakat.

Kesimpulannya, dengan melihat fakta bahwa ekonomi Negara berkembang lainnya bertumbuh meski di tengah merosotnya ekonomi global, maka pelemahan ekonomi global tidak pantas dijadikan alasan kuat pelemahan ekonomi nasional. Kebijakan pemerintah yang tepat merupakan hal paling krusial, apapun dan bagaimanapun kondisi ekonomi global.

Sumber : Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: