Minuman Alkohol Impor Kena Beban Pajak Tinggi

Selain menaikkan cukai minuman lokal, skema tarif bea masuk minuman alkohol impor diubah

JAKARTA. Selain akan menaikkan tarif cukai Minuman Yang Mengandung Etil Alkohol (MMEA), pemerintah pada tahun depan juga berencana menerapkan skema bea masuk baru untuk minuman memabukkan ini. Jika sebelumnya bea masuk minuman beralkohol menggunakan skema ad valorem yang dihitung didasarkan nilai produk, diubah menggunakan tarif spesifik.

Berbeda dengan ad valorem, metode tarif spesifik akan mengenakan cukai berdasarkan besaran kandungan alkohol dalam produk yang diukur dalam satuan liter alkohol murni (liters of pure alcohol/LPA). Kenaikan tarif cukai akan dikenakan untuk produk minuman lokal, sedangkan perubahan skema akan kena ke alkohol impor.

Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Nasruddin Djoko Surjono bilang, dengan perubahan itu maka pajak bagi minuman beralkohol akan semakin tinggi. Seiring perubahan itu, pemerintah juga akan membentuk satuan tugas penertiban impor berisiko tinggi.

“Konsekuensi barang yang punya eksternalitas negatif bagi masyarakat luas dan berdampak negatif bagi generasi muda mendatang, tarif cukainya akan lebih tinggi,” kata Nasruddin kepada KONTAN, Sabtu (4/11).

Dia menyebutkan, pemerintah terakhir kali menaikkan tarif cukai MMEA pada 1 Januari 2014 melalui PMK Nomor 207/PMK.011/2013. Beleid itu menyebutkan, kenaikan tarif cukai diterapkan untuk semua golongan, yaitu golongan A (kadar alkohol kurang atau sama dengan 5%), golongan B (5%-20%), dan golongan C (lebih dari 20%) berkisar antara Rp 2.000-Rp 9.000 per liter, dengan rata-rata kenaikan sekitar 11,66%.

Lalu berapa kenaikan tarif cukai minuman beralkohol produksi dalam pada tahun depan? Nasruddin belum bisa mengatakan karena masih dalam pembahasan.

Beban impor tinggi

Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Kemkeu Marizi Z Sihotang mengatakan, rencana kenaikan tarif cukai akan mempertimbangkan target penerimaan cukai MMEA pada tahun depan sebesar Rp 6,5 triliun “Alkohol produksi dalam negeri sudah lama tidak dinaikkan, apalagi kami dapat target tambahan dari minuman hampir Rp 1 triliun di 2018,” ujarnya.

Sedangkan tarif cukai minuman beralkohol impor, akan dibedakan dari produk lokal. Ini berarti jika saat ini tarif cukai MMEA golongan A antara produk dalam negeri dan impor sama sebesar Rp 13.000 per liter, akan diubah. Pemerintah juga akan membedakan cukai untuk golongan B dan C.

Sebagai contoh, untuk golongan C dikenakan Rp 80.000 per liter sedangkan produk impor Rp 139.000 per liter. Selain kena cukai, produk impor MMEA golongan C juga akan kena bea masuk maksimal 150% sehingga beban tarifnya sangat tinggi. Tarif ini merujuk impor MMEA di India dan Hong Kong yang juga mencapai 150%, bahkan di Mesir mencapai 3000%.

Dengan perubahan skema bea masuk menjadi spesifik, Marizi bilang, tarif ditentukan dari nilai rupiah tertentu tiap satuan barang dikalikan jumlah satuan barang. “Bea masuk spesifik untuk hindari penyelundupan,” ujarnya.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Pemeriksaan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: