Bos Indofood Tak Percaya Daya Beli Masyarakat Lesu

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), Franciscus Welirang, mengaku tak percaya adanya anggapan daya beli masyarakat saat ini tengah melemah atau lesu. Meski ada sejumlah ritel yang tumbang dalam satu tahun terakhir, hal tersebut karena cara perusahaan terkait yang gagal menangkap kebutuhan pasar yang diincarnya.

“Saya enggak begitu melihat hal itu. Boleh saja siapa saja yang ngomong. Tapi buktikan dulu deh. Saya enggak merasa buktinya terasa,” katanya, saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (6/11/2017).

Pria yang akrab disapa Franky ini menjelaskan, data pertumbuhan industri tahun ini yang tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional, membantah isu pelemahan ekonomi yang santer diberitakan belakangan.

Misalnya industri manufaktur skala kecil-menengah yang berhasil tumbuh 5,34% (year on year hingga kuartal III-2017) dan 5,51% untuk pertumbuhan industri manufaktur skala menengah-besar.

Termasuk jika merujuk kepada realisasi investasi di Indonesia di triwulan III-2017 yang naik 13,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Jadi saya enggak percaya yang selalu dibicarakan bahwa pasar itu lesu. Kan kita bisa lihat, industri produksinya tumbuh, investasi tumbuh, kok pasar turun katanya. Di antara sekian banyak, mungkin ada yang tidak sesuai ekspektasi. Yang tadinya diharapkan 10%, jadinya cuma 6%. Tapi tetap tumbuh. Tapi dibilangin bahwa daya beli itu turun. Enggak percaya saya,” ucapnya.

Mengenai rontoknya sejumlah gerai ritel pakaian maupun barang konsumsi, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) ini melihat fenomena ini hanya terjadi di Jakarta saja. Perubahan gaya berbelanja masyarakat dari offline ke online bisa jadi penyebabnya, tapi hanya untuk Jabodetabek atau Jawa saja, mengingat infrastruktur pendukung untuk gaya berbelanja seperti ini di Jabodetabek sudah mendukung.

“Nah, perubahan-perubahan sistem perdagangan itu terjadi di sini (Jawa). Tidak terjadi di seluruh Indonesia. Misalnya electronic transaction itu kan terbesar di Jabodetabek, bukan seluruh Indonesia. Jadi di sini yang terbesar. Tentunya itu berdampak kepada mal dan ritel,” tutur Franky.

“Jadi caranya bagaimana supaya enggak lesu? Mereka (pengusaha) harus bisa melihat dan membidik, segmen mana yang dia mau masuk, sehingga produk-produknya adalah segmen yang harganya disesuaikan. Jangan enggak jelas dicampur. Jadi itu perubahan. Perubahan zaman itu terjadi terus. Tidak akan sama. Setiap tiga tahun berubah. Bahkan lebih cepat,” pungkasnya.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: