Industri Tunggu Izin Impor Rafinasi

Kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk industri tahun ini mencapai 3,5 juta- 3,6 juta ton, naik sekitar 5,8% dari tahun lalu.

Jakarta Polemik gula kristal rafinasi (GKR) terus berlanjut. Setelah sebelumnya terjadi polemik keputusan Kementerian Perdagangan (Kemdag) untuk melaksanakan lelang gula rafinasi, kini protes dilayangkan oleh industri karena Kemdag belum juga menerbitkan izin impor atas gula tersebut.

Belum keluarnya izin impor gula kristal rafinasi ini mengkhawatirkan kalangan industri karena pasokan GKR mereka sudah tipis. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman mengaku, saat ini pihaknya menunggu kepastian dari Kemdag soal izin impor GKR.

Pasalnya pihaknya telah mendapatkan rekomendasi impor dari Kementerian Perindustrian (Kemperin). “Kami menghitung kebutuhan GKR tahun 2018 ini mencapai 3,5 juta-3,6 juta ton,” ujarnya ke KONTAN, Kamis (4/1).

Menurut Adhi, kebutuhan sebanyak itu belum memperhitungkan keperluan industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Untuk itu Adhi berharap Kemdag segera menerbitkan Surat Persetujuan Impor (SPI) agar kegiatan industri tidak terganggu.

Hal yang sama dikatakan oleh Koordinator Forum Lintas Asosiasi Industri Pengguna Gula Rafinasi Dwiatmoko Setiono, Menurutnya selama ini industri hanya mengandalkan kontrak pembelian dari produsen GKR yang dilaksanakan setiap bulan. “Jadi industri tidak memiliki stok sama sekali,” imbuhnya.

Dia berharap Kemdag untuk tidak mempersulit industri pengguna gula rafinasi karena hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Jika hal ini terus berlanjut, dia khawatir upaya pemerintah menciptakan iklim investasi yang kondusif justru terhambat. “Tindakan ini juga bisa dikategorikan pelanggaran Undang-Undang (UU),” kilah Dwiatmoko.

Seperti diketahui, Kemdag juga tengah mempersiapkan pelaksanaan lelang GKR mulai awal tahun 2018 ini. Kemdag menilai kebijakan ini sebagai solusi menekan perembesan GKR ke gula konsumsi.

Stok masih ada

Belum dikeluarkannya surat persetujuan impor (SPI) untuk gula kristal rafinasi dibenarkan pemerintah. Kemdag berdalih masih mempelajari permohonan izin impor tersebut. Kemdag juga tidak memberikan kepastian lebih lanjut kapan akan diterbitkan SPI GKR untuk industri.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemdag Oke Nurwan membenarkan pihaknya telah mendapatkan permohonan izin impor GKR dari industri makanan dan minuman. Namun sampai sekarang pihaknya memang belum bisa memberikan kepastian kapan izin itu akan diterbitkan. “Yang pasti izin impor raw sugar semester satu memang belum keluar,” ujarnya saat dikonfirmasi KONTAN.

Industri meminta Kemdag tidak mempersulit penerbitan izin impor GKR.

Namun, Oke enggan memberikan alasan kenapa SPI untuk GKR tersebut belum juga dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan, padahal GKR tersebut belum juga dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan, padahal GKR merupakan kebutuhan bahan baku utama untuk kelangsungan industri makanan dan minuman di Tanah Air.

Alasan yang dikatakan oleh Oke adalah, bahwa sampai sekarang kebutuhan gula untuk industri masih tercukupi. Menurutnya, saat ini industri makanan masih memiliki stok GKR di gudang mereka masing-masing.

Dirjen Industri Agro Kemperin Panggah Susanto memproyeksikan konsumsi gula mentah atau raw sugar untuk kebutuhan industri gula refinasi pada tahun ini bisa mencapai 3,6 juta ton. Proyeksi kenaikan konsumsi ini lebih tinggi dari kebutuhan GKR industri tahun 2017 yang mencapai 3,4 juta ton.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: