Untung di Catatan Tak Seindah Kenyataan

Catatan neraca perdagangan barang Indonesia tahun lalu memang cukup mengembirakan. Hampir saban bulan, kinerja ekspor selalu bisa melebihi nilai impor. Walhasil, tak aneh jika hingga penghujung tahun 2017 Indonesia bisa menorehkan surplus neraca perdagangan barang.

Sepanjang 2017, total ekspor barang Indonesia mencapai US$ 168,728,6 miliar. Di sisi lain, total impor Indonesia mencapai US$ 156,893 miliar. Dengan begitu, Indonesia berhasil mencetak surplus hingga mencapai US$ 11,835 miliar.

Sayangnya, surplus pada perdangan barang luar negeri tak sejalan dengan sisi jasanya. Seiring pertumbuhan aktivitas perdagangan antarnegara, tren defisit jasa malah tidak bisa dihentikan. Bahkan, makin ke sini nilainya terus membengkak.

Dana terbaru Bank Indonesia soal Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menunjukkan, pada triwulan III-2017 defisit neraca jasa mencapai US$ 2,2 miliar. Penyumbang terbesarnya, ya, dari jasa transportasi penopang aktivitas perdagangan luar negeri.

Bank sentral menyebut, defisit yang membengkak terutama disebabkan kenaikan impor barang. Tapi kalau ditelisik lebih jauh, sebetulnya tidak cuma impor yang menggunakan jasa angkutan asing. Untuk keperluan ekspor sekalipun banyak memanfaatkan jasa kapal dari negara lain.

Wajib Kapal Nasional

Tidak ingin terus-terusan didera defisit, pemerintah mengeluarkan serangkaian kebijakan. Paling anyar, September tahun lalu Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 82 tahun 2017. Mulai April tahun ini, regulasi tersebut akan diberlakukan.

Beleid ini  mengatur soal kewajiban penggunaan angkutan laut dan asuransi nasional untuk ekspor dan impor. Untuk ekspor, komoditas yang terkena kewajiban ini adalah batubara dan minyak sawit mentah (crude palm oil / CPO). Sementara untuk barang impor diharuskan bagi komoditas beras dan barang kebutuhan pemerintah.

Sampai di titik ini, jelas terbaca jika yang akan terbantu bukan cuma soal neraca pembayaran Indonesia. Industri perkapalan dan asuransi nasional juga akan menikmati berkah.

Maka, tak heran jika pengusaha perkapalan dan industri asuransi nasional menyambut gembira aturan ini. Carmelita Hartoto, Ketua Umum Indonesian National Shipowners’ Asociation (INSA) yakin kebijakan ini akan berbuah positif bagi sektor pelayaran nasional. Jasa angkatan laut yang melayani kegiatan ekspor impor diprediksi akan mengalami pertumbuhan bertahap pada awal kuartal kedua 2018.

Bisa dimaklumi jika Carmelita begitu gembira. Pasalnya, proses penerbitan Permendag 82/2017 memang memakan waktu panjang dan melibatkan banyak pihak. Prosesnya dimulai dari pembentukan tim task force pada tahun 2012. Lantas, setahun kemudian Kementerian Perdagangan bersama dunia usaha menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk mengubah skema perdagangan ekspor dari sistem free on board (FoB) menjadi CIF (cost, insurannce, and freight).

Berikutnya, sebelum Permendag 82/2017 terbit, pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi XV soal daya saing penyedia jasa logistik nasional.

Eksportir khawatir

Bisa dibilang, satu-satunya pihak yang masih khawatir jika aturan ini diberlakukan cuma perusahaan pemilik barang. Loh, kok bisa?

Meski di atas kertas menggunakan skema CIF, pada kenyataannya perusahaan batubara mengikat kontrak dengan pembeli di luar negeri menggunakan sistem FoB.

Penjelasan sederhananya, urusan kapal dan asuransi menjadi tanggung jawab pembeli. Sementara pemilik barang hanya bertanggungjawab terhadap barang sampai di pelabuhan. “Sekitar 95% ekspor batubara menggunakan kapal luar dengan sistem FoB. Pembeli yang mengatur kapal dan asuransinya,” ujar Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia.

Pada praktiknya, skema ini menguntungkan kedua belah pihak. Pemilik barang tak perlu repot-repot mencari kapal dan perusahaan asuransi. Sementara pembeli bisa mengangkut barang dan mendapat perlindungan asuransi dengan tarif yang lebih murah.

Persoalan lainnya, seperti pameo yang populer, nenek moyang kita memang pelaut. Sehingga tidak aneh jika jumlah kapal di Indonesia sangat banyak, bahkan lebih banyak dari pada Panama yang terkenal sebagai salah satu surga administrasi kapal di dunia. Tapi masalahnya, ukuran dan daya angkut kapal di Indonesia kecil-kecil, lebih pas digunakan untuk jalur pelayaran domestik.

Siswanto Rusdi, Direktur The National Maritime Transport 2017. Dalam laporan itu, jumlah kapal yang terdaftar di Indonesia paling banyak di dunia, yakni 8.782 unit. Sementara di Panama hanya 8,052 kapal. Hanya saja, rata-rata tonase kapal Indonesia Cuma 4,269 dwt. Jauh di bawah Panama yang rata-rata di atas 5,000 dwt.

Padahal, agar efisien pengangkutan mesti menggunakan kapal bertonase besar. Hendra menyebut, rata-rata, sekali pengapalan batubara untuk ekspor, volumenya bisa 50.000 ton hingga 80.000 ton. Dari sisi ini saja, jelas kapal Indonesia bukanlah pilihan utama.

Untuk komoditas batubara misalnya, saban bulan diperkirakan rata-rata ekspor batubara sekitar 30 juta-35 juta ton. Namun, kapasitas angkut kapal nasional maksimal hanya sekitar 5 juta ton. Jika dipaksakan seluruhnya menggunakan kapal Indonesia, secara bisnis tidak akan efisien. Semakin kecil daya angkut, ritasenya jadi kian tinggi. Alhasil, biaya operasionalnya juga lebih mahal.

Dus, Hendra mengaku belum lama ini bertemu dengan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag. Pihaknya kembali menegaskan, agar pelaksanaan Permendag tidak mengganggu aktifitas ekspor dan tidak menambah beban usaha eksportir batubara.

Tidak kompetitif

Hendra pantas khawatir, sebab fakta soal kondisi industri perkapalan nasional tak bisa diubah dalam waktu singkat. Ini bukan seperti legenda Bandung Bondowoso yang membangun Candi Prambanan dalam semalam. Bisnis harus terus berjalan dan terlalu riskan jika harus berhenti hanya gara-gara ketiadaan kapal pengangkut di dalam negeri.

Untuk membikin kapal baru, butuh waktu yang tidak sebentar. Rata-rata, kata Tjahjono Roesdianto, Anggota Dewan Penasihat Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), bisa makan waktu hingga 20 bulan. Jika menggunakan desain kapal yang baru, perlu tambahan waktu 6 bulan lagi.

Anggaplah urusan waktu tidak menjadi masalah. Tapi jangan dilupakan soal kemampuan galangan kapal nasional. Ada sekitar 160 unit fasilitas produksi kapal di Indonesia. Total kapasitas produksinya sekitar 1,2 juta deadweight tonnage (DWT). “Di luar Batam, mungkin hanya ada lima galangan yang bisa bikin kapal berbobot 50.000 DWT keatas,” ujar Tjahjono.

Sudah selesai masalahnya? Ternyata belum. Harga kapal buatan Indonesia sekalipun yang berkapasitas besar, kurang berdaya saing dengan bikinan negara lain. Seperti apa komparasi harganya, rupanya agak sulit untuk diperbandingkan secara apple to apple. Sebab, harga kapal baru amat bergantung pada negara pembuatannya serta teknologi yang diselamatkan di armada tersebut.

Tapi secara umum, kata Siswanto, harga kapal baru buatan Korea dan Jepang lebih mahal ketimbang China. Sebab, teknologi yang digunakan Korea dan Jepang memang lebih bagus.

Faktor lainnya, China menerapkan kebijakan pengurangan pajak untuk ekspor kapal. Dus, makin besar ukuran kapalnya, kian murah pula harga kapal bikinan negeri tembok besar itu. “Secara umum beda harga kapal buatan Korea dan Jepang dengan kapal China bisa 20%-30%,” imbuh Tjahjono.

Nah, Tjahjono bilang, dibanding buatan Korea dan Jepang, harga kapal bikinan galangan nasional masih bisa bersaing. Tapi jangan lupa, ada faktor perpajakan yang membuat kita kalah kompetitif. Belum lagi kebanyakan komponen kapal masih harus diimpor sehingga terpengaruh dengan fluktuasi nilai tukar.

Soal pendanaan perbankan yang bunganya belum menunjang industri juga masih jadi masalah. Menurut Lucas Djunaidi, Wakil Direktur Utama PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk, aturan ini memang menjadi angin segar bagi industri jasa angkutan nasional. “Yang penting bisa didukung oleh industri perbankan sebagai partner dalam pembiayaan aapabila perlu membiayai kapal yang dikuasai nasional ini,” kata Lucas.

Singkat cerita, jika dari harga kapal baru saja kita kalah bersaing, apalagi jika dibandingkan dengan kapal bekas. Selisih harganya tergantung tahun pembuatan kapal. Komisi untuk perantara kapal. Komisi untuk perantara yang mempertemukan pihak penyewa dan pembeli juga mempengaruhi tarif sewa. Tapi secara umum selisihnya bisa diatas 20%.

Dus, tidak aneh jika perusahaan jasa angkutan laut di Indonesia lebih senang membeli kapal bekas. Ini cara yang paling gampang, cepat, dan murah.

Kalaupun membeli kapal baru, tidak sedikit yang memilih membikin di galangan luar negeri. Setelah selesai dibangun, kapal lantas dipasang bendera Panama atau Liberia. Lantaran di dua negara ini, biaya yang dibebankan hanyalah untuk pendaftaran kapal semata.

“Banyak pemilik orang Indonesia yang mendaftarkan kapalnya dengan bendera negara lain untuk mengurangi pajak. itu biasanya kapal baru, berukuran besar, dan pengadaannya lewat pinjaman bank asing, tandas Siswanto.

Pilihan lainnya, menyewa kapal dari luar negeri sepanjang masa kontrak pengangkutan yang mereka kantongi. Dari sisi waktu, jelas pengadaan kapalnya lebih cepat. Dari sisi biaya juga pasti lebih murah.

Jika pilihannya menyewa, pergantian bendera menjadi merah putih itu urusan yang gampang. Berbekal kontrak pengangkutan sekian tahun di tangan, penyewa bisa menegosiasikan skema sewa dengan pemilik kapal. Selain pindah, bendera, penyewa juga bisa bisa menyewa kapalnya saja alias tidak termasuk kru.

Pemerintah sepertinya paham betul dengan kondisi ini. Dus, dalam Pemendag 82/2017, pemerintah memberikan ruang untuk menggunakan kapal asing. Jika kapal yang dibutuhkan jumlah terbatas atau tidak tersedia

Hmmm, kok aturannya jadi kayak lip service saja ya!

Sumber: Tabloid Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Pemeriksaan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: