Cuaca buruk, optimisme pebisnis turun

JAKARTA. Cuaca yang tidak menentu menjadi pemicu turunnya optimisme pelaku usaha pada kuartal IV-2017 lalu. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi sektor yang paling rendah optimismenya dibandingkan sektor lainnya. Penurunan optimisme ini terus berlangsung dan semakin rendah pada kuartal I-2018.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik ( BPS), Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada kuartal IV-2017 sebesar 111,02. Walau masih optimis, ditunjukkan dengan indeks di atas 100, namun optimisme pelaku bisnis dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat 112,39 menunjukkan penurunan.

Jika dilihat dari pendapatan usaha kuartal IV-2017, keyakinan para pebisnis masih tinggi terlihat dari indeks yang sebesar 115,58. Penggunaan kapasitas usaha juga masih bagus dengan indeks 112,74. “Masih bagus di triwulan IV-2018,” ungkap Suhariyanto, Kepala BPS, Senin (5/2).

BPS juga mencatat seluruh lapangan usaha masih dalam kondisi membaik. Sektor yang optimismenya paling tinggi adalah administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan Sosial Wajib. Diikuti jasa keuangan & asuransi lalu pengadaan listrik & gas.

Sektor usaha yang angka indeksnya masih di atas 100 namun memiliki optimisme paling rendah adalah sektor pertanian, kehutanan, perikanan, “Pada kuartal IV-2017 musim tidak berpihak pada pertanian sehingga optimismenya melemah,” bebernya.

Walau persepsi pebisnis masih positif, Suhariyanto mengakui, tingkat optimismenya sedikit melemah. “Ada sedikit penurunan optimisme, tetapi masih menjanjikan,” ujarnya.

Bahkan menurutnya, pada kuartal I-2018 ini suasana keyakinan bisnis diperkirakan masih melemah. Hal itu terindikasi dari indeks tendensi bisnis kuartal I-2018 yang diperkirakan hanya 108,6, turun dibandingkan dengan kuartal IV-2017.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, banyak pengusaha cenderung wait and see di tahun politik. “Ada banyak juga yang menahan investasi karena target penerimaan pajak naik 20% dibanding dengan realisasi tahun lalu,” katanya.

Selain itu, penurunan optimisme pebisnis juga bisa disebabkan karena sisi permintaannya yang belum naik, seiring dengan kenaikan harga bahan kebutuhan sehingga masyarakat menahan belanja. “Kecuali manufaktur atau trader yang orientasinya ekspor bisa lebih optimistis melihat permintaan global membaik,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum Kadin bidang Perdagangan Benny Soetrisno menilai, ekonomi domestik memang memiliki gambaran seperti itu. “Kuartal I selalu paling lemah dan keempat paling tinggi,” ujarnya. Dia yakin optimisme pebisnis naik di kuartal II karena ada bulan puasa dan hari raya.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: