AHY Paparkan 5 Permasalahan Bangsa

AHY Paparkan 5 Permasalahan Bangsa

Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan, ada permasalahan bangsa yang dinilai perlu mendapat perhatian serius pemerintah. Isu itu mulai dari bidang perekonomian hingga pembangunan non-fisik.

Pertama, terkait daya beli masyarakat. Menurut AHY, akhir-akhir ini daya beli masyarakat menurun. Penghasilan masyarakat tak mencukupi untuk membeli barang seperti bahan kebutuhan pokok. “Ada keresahan, kekhawatiran warga. Mereka tentu berharap ada perbaikan ekonomi ke depan,” kata AHY.

Hal itu disampaikannya saat wawancara khusus dengan Pemimpin Redaksi Harian Umum Suara Pembaruan dan Beritasatu.com Primus Dorimulu di Agus Command Center (ACC), Jakarta, Senin (26/2).

Menurut AHY, penurunan daya beli memang disebabkan pertumbuhan ekonomi nasional yang agak melambat. Diakuinya, tidak mudah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat tergantung kondisi global. “Tetapi perlu terus ditingkatkan pertumbuhan ekonomi kita, sehingga pada akhirnya bisa memberikan, menghadirkan daya beli yang baik di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kedua, menyangkut ketersediaan lapangan pekerjaan. Diungkapkan, sebagian generasi muda mengeluh sulitnya berkompetisi di era digital saat ini. Dia juga sempat berdiskusi dengan pelaku dunia usaha atas, menengah dan bawah. Semua terkena dampak kemajuan teknologi. “Kita masuk ke teknologi digital, serba online (daring). Banyak retail yang terganggu,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, penerapan kartu tol elektronik jalan tol (e-toll) misalnya, sekitar 10.000 orang menjadi tak diperlukan tenaganya. Semua pelayanan publik nantinya kemungkinan digantikan dengan mesin. “Saya sampaikan ke kampus-kampus. Jangan kaget ketika nanti banyak teknologi masuk menggantikan peran dan fungsi pekerjaan manusia,” ucapnya.

Dia juga beberapa kali mengajak generasi muda berimajinasi tentang masa depan Indonesia pada 2045 atau 100 tahun Indonesia merdeka. Momentum bonus demografi pada 2020-2030, lanjutnya, tak boleh disia-siakan. Ketika itu, sekitar 70 persen penduduk Indonesia memiliki populasi produktif.

Diakuinya, bonus demografi seperti dua mata pedang. Satu sisi bermanfaat positif bagi bangsa, di sisi lain berpotensi berdampak negatif. Meski begitu, dia menyatakan, generasi muda harus bersikap optimistis. Kalangan muda perlu disiapkan dengan kapasitas intelektual dengan karakteristik yang unggul sekaligus dengan kepemimpinan serta kemampuan manajerial.

“Semua indikator menunjukkan Indonesia bisa pada 2045 menjadi masa keemasan, bahkan dianggap sebagai negara yang betul-betul maju. Kita harus punya optimisme ke sana,” kata peraih Adhi Makayasa Akademi Militer (Akmil) 2000 ini.

Ketiga, terkait keadilan yang meliputi bidang hukum, politik dan ekonomi. Masyarakat juga mengeluhkan soal keadilan ini. “Semua ingin berharap negara ini adil. Jangan tumpul ke atas, tajam ke bawah. Harus berimbang. Jangan sampai yang lemah itu kalah dengan yang punya modal atau kuasa. Ini juga yang menjadi hasrat dan harapan rakyat,” tegasnya.

Keempat, soal persatuan. Muncul kekhawatiran dinamika sosial setelah Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (pilgub) DKI Jakarta 2017 melebar. Istilah mayoritas dan minoritas mulai mencuat ke permukaan publik. “Walau itu kata (mayoritas dan minoritas) sah, tapi jangan selalu dikaitkan dalam proses politik. Karena tak produktif, justru memecah belah kita,” ujarnya.

AHY yang pernah maju sebagai calon gubernur (cagub) pada Pilgub Jakarta mengungkapkan, dirinya sempat digoda menggunakan isu-isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) ketika kontestasi. Namun, dirinya menolak usulan itu.

“Saya enggak mau melanggar sumpah saya sejak letnan dua. Saya digoda, ‘Pak pakai ini, pakai isu ini’. Mungkin saya menang, mungkin juga enggak. Tapi saya menolak,” ungkapnya.

Dirinya tak mempermasalahkan jika pada akhirnya tak dipilih masyarakat hanya karena menolak memakai isu SARA. “Saya punya nilai. Saya tidak ingin NKRI yang dibangun dengan darah dan air mata ini terkoyak-koyak,” imbuhnya.

Sekarang ini, menurutnya, ujaran kebencian marak dan menyebar. Diturunkan kepada generasi muda. Grup WhatsApp (WA) dan media sosial lainnya, lanjutnya, berisi konten-konten meresahkan dan merusak persatuan.

“Saya jadi korban. ‘AHY ini kalau jadi (gubernur) bakal menghabisi minoritas’. Darah saya ini darah prajurit, NKRI. Namun, akhirnya sejarah, waktu dan Tuhan lah yang membuka satu-satu. Ternyata tidak. Saya tidak pernah begitu. Saya tidak pernah main-main dengan NKRI, persatuan,” tegasnya.

Kelima, pembangunan non-fisik. Menurut AHY, masyarakat memiliki ekspektasi terhadap pemerintah. Pembangunan infrastruktur fisik diapresiasi. Meski begitu, ujarnya, rakyat juga mendambakan peningkatan pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial.

“Masih banyak sekali masyarakat kita hidup di bawah garis kemiskinan. Harapannya diperhatikan melalui bantuan-bantuan langsung oleh negara,” katanya.

Dia mengaku tak pernah melakukan agitasi masyarakat untuk menyalahkan pemerintah. “Saya bukan tipikal orang seperti itu. Saya katakan ayo kita sama-sama,” ucap putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.

Sumber : beritasatu.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: