Hanya Cukai Yang Bisa Mendongkrak Penerimaan

Jakarta – Presiden Joko Widodo ingin menambah target penerimaan perpajakan tahun 2015 sebesar Rp 600 triliun dari target yang ada. Namun, sumber penerimaan dari pajak tidak akan berkontribusi lebih banyak dari tahun ini. Tahun depan, hanya penerimaan cukai yang bisa dioptimalkan, sedangkan bea keluar dan bea masuk kemngkinan akan melambat.

13

Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai Kementerian Keuangan Susiwijono Moegiarso menyatakan, sulit meningkatkan penerimaan bea masuk dan bea keluar karena ekspor-impor masih lambat tahun depan. Sedangkan target penerimaan cukai masih bisa diperbesar karena mulai tahun depan berlaku kenaikan tarif cukai hasil tembakau 8,72%.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015, target penerimaan cukai Rp 126,7 triliun atau naik 7,83% disbanding target tahun ini Rp 117,5 triliun. Realisasi penerimaan cukai hingga November 2014 senilai Rp 101,48 triliun, sedangkan bea masuk dan bea keluar Rp 37,40 triliun per Oktober.

Proyeksi pemerintah, penerimaan cukai hingga akhir tahun ini adalah 100,6% dari target Rp 117,5 triliun atau mencapai sekitar Rp 118,1 triliun. “Makanya, kalau tahun depan terjadi perubahan target, kami siap,” kata Susiwijono, Selasa (23/12).

Selain mengandalkan cukai rokok, Direktorat Bea Cukai akan mengajukan ekstensifikasi, seperti pengenaan cukai minuman bersoda. Kajian pengenaan tariff tersebut hingga saat ini masih menunggu rekomendasi dari Kementerian Kesehatan yang seharusnya masuk pada akhir tahun ini.

Lalu, bea cukai juga akan mengenakan tarif bea keluar batubara. Namun, Susiwijono masih merahasiakan usulan tarif bea keluar tersebut. Ia hanya memperkirakan, jika kebijakan ini berlaku, maka aka nada tambahan penerimaan hingga Rp 22 triliun untuk pos bea keluar. Tahun ini target penerimaan bea keluar hanya Rp 20,60 triliun dan baru tercapai Rp 10,70 triliun per akhir Oktober.

Meskipun begitu, rencana pengenaan bea keluar batubara ini belum dibicarakan dengan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemkeu. Pembicaraan akan dilakukan jika hasil pembahasan RAPBN-P 2015 memutuskan kenaikan penerimaan bea cukai.

Ekonom Institute of Development of Economist and Finance (INDEF), Eko Listianto, berpendapat, pemerintah masih bisa menggenjot penerimaan cukai. Selain usulan di atas, pemerintah juga bisa meninjau tarif minuman beralkohol.

Selama ini, kontribusi cukai dari minuman beralkohol masih rendah. Dari total penerimaan cukai, kontribusi cukai minuman beralkohol hanya sekitar 5%.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: