JAKARTA. Perusahaan tambang batubara di tanah air mulai mengerem produksi. Penyebabnya tak lain karena harga jual batubara masih murah di pasar internasional.
Di sisi lain, permintaan pasar global juga menurun. Alhasil, sepanjang Januari-Maret 2015 produksi batubara Indonesia hanya 97 juta ton. Jumlah tersebut turun 21% dibandingkan dengan produksi kuartal-I 2014 sebanyak 124 juta ton.
“Produksi hingga Maret 2015 sebanyak 97 juta ton, dengan rincian eskpor sebanyak 79 juta ton dan 18 juta ton merupakan penjualan domestic,” ujar Bambang Tjahjono, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada KONTAN, akhir pekan lalu.
Dalam pemantauan Bambang, ada beberapa penyebab produksi batubara Indonesia menurun. Pertama, kebutuhan batubara di negara tujuan ekspor memang berkurang lantaran sudah memasuki musim panas. Kedua, adanya peraturan di Kementerian Perdagangan yang mewajibkan produsen pengekspor batubara menjadi eksportis terdaftar. Ketiga, “karena harga minyak sedang murah, sehingga pemilik pembangkit listrik batubara, kembali beralih menggunakan bahan bakar minyak dan meninggalkan bahan bakar batubara,” ujar dia.
Sementara menurut Pandu P. Syahrir, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Selasa (21/4), penyebab utama penurunan produksi batubara Indonesia pada tiga bulan pertama 2015 karena harga jual merosot. Kondisi ini membuat pengusaha batubara semakin sulit memperoleh margin. Hal ini tentu membuat pengusaha memilih untuk menghentikan aktivitas tambang sampai harga kembali membaik. “Tidak ada margin lagi dengan harga jual batubara yang sekarang,” kata Pandu kepada KONTAN.
Sebagai gambaran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batubara acuan (HBA) per April 2015 sebesar US$ 64,48 per ton. Harga acuan tersebut turun sekitar 4,8% dibandingkan dengan HBA Maret 2015 yang ditetapkan sebesar US$ 67,76 per ton.
Menurut Pandu, dampak melorotnya harga ini tak hanya memukul bisnis produsen batubara kalori rendah. Saat ini pengusaha batubara kalori sedang juga mulai terkena dampak lantaran makin kecilnya margin yang mereka peroleh. “Harga sekarang sudah turun lebih dari 50% dibandingkan tahun lalu, margin perusahaan tambang banyak yang negatif,” kata dia.
Singgih Widagdo, Sekretaris Perusahaan PT Berau Coal Energy Tbk menjelaskan, meskipun produksi nasional turun, produksi BRAU masih stabil di awal tahun ini. Pihaknya memperkirakan produksi pada kuartal I 2015 sesuai target yakni 6,6 juta ton.
Melorotnya produksi batubara ini juga belum di dukung oleh kenaikan permintaan batubara dari pembangkit listrik dalam negeri yang hingga kini tak bertambah banyak.
Sumber: KONTAN
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar