Menata Ekspor, Mendongkrak Harga

timah3Pemerintah mengeluarkan regulasi tata niaga timah. Tidak hanya masalah ekspor tetapi juga untuk kebutuhan dalam negeri. Tambang ilegal masih menjadi momok.

Di Pangkalpinang, kota yang dilahirkan para penambang timah itu, Presiden Joko Widodo mengungkapkan gusarnya. Ia melawat ke ibukota Provinsi Bangka Belitung itu, 20 dan 21 Juni lalu. Pada Sabtu malam 20 Juni, Jokowi meluangka waktu untuk salat tarawih. Keesokan harinya ia menyambangi berbagai tempat, di antaranya ke pabrik pengolah bijih timah PT Tinindo Internusa.

Tinindo Internusa adalah pabrik pengolah timah milik Hendry Lie, pengusaha timah yang kini lebih dikenal sebagai pemilik maskapai Sriwijaya Air dan Nam Air. Di Tinindo, Presiden Jokowi mengeluarkan keprihatinannya soal timah Indonesia; terlalu banyak timah ilegal. “Yang paling penting adalah bagaimana strategi ke depan agar timah bisa jadi komoditi yang mengendalikan pasar dunia,” kata Presiden Jokowi.

Ia ingin agar timah yang dipasok ke pasar dunia bersumber dari proses resmi. Saat ini banyak timah yang diekspor Indonesia melalui proses gelap. Baik penambangnya maupun penjualannya, dilakukan dengan menabrak aturan.

“Kalau kita mau mengendalikan timah ilegal, tambang rakyat harus dikelola. Diatur dengan baik, baik oleh bapak angkatnya yang swasta maupun BUMN. Manajemen dibenahi. Harus ada badan usaha, entah koperasi, CV atau PT. Harus seperti itu,” tegas Jokowi.

Timah, bahan tambang andalan Pulau Bangka dan Belitung, nasibnya memang tengah muram. Data Kementerian Perdagangan menyebutkan, ekspor timah Indonesia di bulan April dan Mei 2015 tetap meningkat. Di bulan Apil ekspor bahan baku utama solder tersebut tercatat sebesar 5.071 ton. Pada Mei menjadi 6.262 ton.

Kenaikan ekspor timah dari Indonesia ini berakibat buruk bagi pasar timah global. Saat ini harga timah di Bursa Logam London di kisaran US$ 14.000-an per ton, melemah 15% sejak awal tahun.

Difasilitasi Gubernur Bangka Belitung, Rustam Effendi, para pemain timah di Bangka bersepakat memangkas ekspornya, 26 Maret lalu. Ekspor timah yang biasanya setiap bulan sekitar 8.000 ton, dipangkas menjadi 4.500 ton. Kemudian dikoreksi lagi menjadi 4.000 ton untuk ekspor bulan Mei. PT Timah mendapat jatah 1.500 ton per bulan. Sisanya untuk pengusaha smelter lain.

“Kami terima keputusan itu, meski kalau dilihat dari luas konsesi dan kapasitas produksi PT Timah, angka tersebut tentu tidak adil. Namun karena untuk kepentingan bersama kami sepakat. Namun ternyata angka ekspor kita tetap lebih dari yang disepakati,” kata Sekretaris Perusahaan PT Timah, Agung Nugroho Soeratno.

Para juragan smelter timah diduga menggenjot penjualan demi mendapatkan uang tunai untuk membayar THR pegawainya. Perusahaan juga butuh dana tambahan guna memenuhi kewajiban keuangan pada negara agar mendapat status bersih dan tuntas (C&C) sebagai salah satu syarat dari regulasi ekspor timah yang baru. Pengusaha juga diperkirakan ingin menghabiskan stok sebelum penerapan Permendag No 33/2015 pada 1 Agustus 2015.

Regulasi anyar itu merupakan revisi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44/2013. “Di antara semua komoditi tambang, mungkin timah yang paling sering berubah regulasinya,” kata Agung yang ditemui di kantornya di Jakarta.

Regulasi terbaru ini merupakan salah satu upaya menutup lubang penyelewengan terhadap perdagangan timah selama ini. Aturan lawas memiliki celah, diantaranya, dari empat jenis timah yang boleh di perdagangkan, hanya satu yang lewat bursa. Lainnya bisa langsung dengan beberapa persyaratan.

Di aturan baru, baik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri, timah murni batangan harus dijual lewat bursa. Timah yang diekspor harus membayar royalti, memiliki sertifikat bersih tuntas, serta memiliki persetujuan ekspor.

Memanfaatkan masa transisi hingga 1 Agustus, para cukong timah ramai-ramai mendongkrak ekspor timah murni batangannya.

***

timahINDONESIA, bersama Cina, Peru dan Brasil, merupakan empat negara produsen timah terbesar dunia. Karena konsumsi dalam negeri minim, timah Indonesia sebagian besar diekspor. Indonesia adalah pengekspor timah terbesar.

Menarik ketika melihat data produksi timah negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand. Pada 2014 Malaysia memproduksi bijih hanya 3.610 ton. Thailand sejak 2014 sudah tidak memproduksi bijih timah, tapi masih menghasilkan logam timah 16.110 ton. Dari mana sumber timahnya?

Jawabannya bisa dilihat dari pernyataan Menteri Kelautan, Susi Pudjiastuti. “Thailand tidak punya tambang timah, tapi kok bisa ekspor. Ini dari tambang timah ilegal dari Bangka Belitung,” katanya. Susi risau melihat situasi itu, karena penyedotan pasir timah menganggu kehidupan nelayan. “Saya tinggal menunggu perintah Presiden, untuk ikut menangani masalah ini atau tidak,” lanjutnya.

Penjualan gelap pasir timah itu bisa dilihat, misalnya, pada Maret tahun lalu. Ketika itu TNI Angkatan Laut menangkap kapal pengangkut pasir timah yang tengah menuju Singapura. Pasir itu dimasukkan dalam peti kemas. Diperkirakan nilainya Rp 900 juta.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Agung Nugroho Soeratno menaruh harapah pada regulasi baru. Sayangnya, pelaksanaannya bru dimulai tiga bulan setelah diundangkan, sehingga memicu para eksportis mengekspor timah sebelum jatuh tempo.

Agung mendukung kewajiban memiliki sertifikat bersih dan tuntas bagi para eksportir. Dalam regulasi baru, yang boleh ekspor hanya tiga jenis timah dari sebelumnya empat jenis. Timah murni bukan batangan yang selama ini diekspor tanpa lewat bursa komoditi menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan pelaku usaha “nakal”. Mereka mengekspor dalam bentuk non-batangan. Di negara tujuan, timah itu diolah menjadi bentuk batangan berlabel negara tersebut.

Jenis timah yang diekspor sebelumnya adalah timah murni batangan, timah solder, dan timah paduan bukan solder. Dalam revisinya, yang bisa diekspor hanya timah murni batangan, timah solder, dan barang lainnya dari timah.

Timah murni yang bisa diekspor harus memiliki kandungan stannum (Sn) 99,9% dalam bentuk batangan yang merupakan hasil kegiatan pengolahan dan pemurnian bijih timah oleh smelter.

Timah solder memiliki kandungan Sn paling tinggi 99,7% dipergunakan untuk menyolder dan mengelas. Barang lainnya dari timah memiliki kandungan Sn paling tinggi 96% dalam bentuk pelat, lembaran, strip, foil, pembuluh, pipa, serta alat kelengkapan pembuluh.

“Selain ketiga kelompok barang tersebut dilarang untuk ekspor,” kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.

Di regulasi baru, timah batangan murni, baik untuk diekspor maupun di jual di dalam negeri, wajib di lego melalui bursa timah. Pemerintah menilai, pengetatan ekspor timah tersebut akan menghentikan pihak-pihak yang menyalahgunakan kegiatan ekspor timah.

“Tidak semua negara memiliki cadangan timah. Indonesia termasuk salah satu yang memiliki cadangan yang cukup besar. Oleh karenanya harus ditata agar berkelanjutan,” terang Agung Nugroho.

Selain itu, sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikan peran timah sebagai bahan baku solder. “Kalau pun ada seperti emas dan perak akan lebih mahal,” terang Agung.

Sayangnya eksploitasi timah yang dilakukan tanpa mengindahkan kaidah pertambangan yang baik dan benar telah menyebabkan kerusakan lingkungan di Bangka dan Belitung. Diperkirakan pertambangan ilegal di Pulau Bangka sudah merusak 65% hutan serta merusak lebih dari 70% terumbu karang di wilayah tersebut.

***

Pengamat timah, Bambang Herdiansyah menilai, pemerintah telah belajar dari pengalaman di regulasi sebelumnya. Ketika itu aturan hanya fokus mengatur tata niaga timah untuk dalam negeri.

Sebelumnya, timah murni bukan batangan, timah paduan solder dan produk timah industri tidak dijual lewat bursa, melainkan langsung oleh perusahaan dengan mitranya. Tidak ada pengaturan rinci untuk perdagangan jenis timah non batangan ini.

timah2Ini menjadi celah ekspor. Berbekal dokumen ET Timah Industri, perusahaan tetap dapat melakukan ekspor untuk jenis timah non-batangan. Produk ini dimasukkan sebagai produk industri berbahan baku timah.

Hasilnya, kegiatan ekspor timah non-batangan menjadi tidak terkendali, yang berakibat pasar kehilangan pasokan. Inilah salah satu penyebab jatuhnya harga timah dunia seperti sekarang ini.

Bambang mengingatkan, Permendag No 33/2015 hanya mengatur kegiatan hilir timah. Pemerintah harus menyelaraskan dengan kegiatan hulunya.

“DIbutuhkan komitmen kuat oleh pemerintah daerah untuk mengawasi kegiatan hulunya berdasarkan IUP yang diterbitkan,” kata Bambang.

Beleid yang baru ini dinilai Bambang masih mengandung celah yang bisa dimanfaatkan dan berpotensi merugikan negara. Idealnya dalam pengelompokan jenis timah ini, pemerintah cukup membuat dua kelompok jenis timah, yaitu timah murni batangan dan timah produk industri, termasuk timah solder di dalamnya.

Bambang menilai, pemerintah daerah harus berperan penting sebagai regulator, untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang peraturan yang menyangkut tata kelola pertambangan secara baik dan benar. Termasuk sanksi hukum yang akan dikenakan, bila terjadi penyimpangan pada pelaksanaannya.

Lemahnya pengawasan lapangan terhadap IUP yang diterbitkan para kepala daerah memberikan peluang kepada para pemegang IUP berbuat culas. Mereka menampung bijh timah hasil tambang gelap untuk dijadikan bahan baku timah ekspor.

Akibatnya, kerusakan lingkungan makin parah. “Mereka menambang menurut asumsi mereka sendiri, bukan berdasarkan aturan,” ungkap Bambang. Kondisi ini membuat timah dikeruk habis-habisan, dan tidak memberi manfaat berarti bagi masyarakat, daerah juga negara.

Bahkan, menurut Bambang, penerimaan negara dari kegiatan penambangan timah di Bangka Belitung selama ini tidak sebanding dengan biaya pemulihan lingkungan yang telah rusak parah.

Keberhasilan pemberlakuan aturan ini, hanya dapat dilakukan jika pemerintah konsisten menerapkan aturan yang telah ditetapkannya. Kunjungan Jokowi ke Bangka barulah sebuah awal. Setelah itu, masih banyak ranjau yang harus dilalui.

 

Sumber: Majalah Tambang

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 replies

  1. mau tanya dongg gimana caranya buat tkp baru dan pembetulannya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: