JAKARTA. Kondisi rupiah yang masih anteng di posisi Rp 14.000 lebih per dollar AS membuat gerah produsen elektronik. Sebab, sebagian besar komponen elektronik masih impor.
Menurut AG Rudyanto, Ketua Electronic Marketers Club (EMC), imbas dari kondisi rupiah yang makin terkapar ini membuat produsen elektronik tidak punya cara lain selain mengerek harga produk elektronik. “Dalam waktu dekat ini harga pasti naik. Kenaikan harga tergantung seberapa besar pelemahan rupiah terus berlanjut, mungkin bisa naik 5%-10% dari harga awal tahun,” ujar Rudyanto kepada KONTAN, Rabu (26/08).
Kenaikan terjadi untuk semua jenis produk elektronik. Kecuali, produk televisi, lantaran persaingan bisnis di produk ini semakin ketat di pasar domestik. Jadi harga produk elektronik di luar televisi, seperti kulkas, mesin cuci dan lainnya bisa ikut terkerek dalam waktu dekat.
Kenaikan harga akan terjadi baik untuk barang elektronik produk buatan pabrik dalam negeri, apalagi impor. “Meskipun Indonesia sudah punya pabrik produksi elektronik sendiri, tapi komponennya masih banyak yang impor. Apalagi yang impor secara completely built unit (CBU) full,” tukas Rudyanto.
Ia mengatakan pada awal tahun ini, pengusaha elektronik menetapkan nilai kurs acuan di kisaran Rp 13.000. Apalagi kondisi saat ini dimana rupiah sudah tembus ke batas psikologis baru yaitu Rp 14.000 per dollar AS.
Soal periode kapan harga mulai naik, ia menyerahkan hal tersebut kepada masing-masing perusahaan. “Mereka punya hitungan dan strategi sendiri,” ujar Rudyanto.
Langkah senada dilakukan PT Hartono Istana Teknologi, produsen elektronik merek Polytron. Mereka mengerek harga jual produk 3%-5%. Perusahaan ini mengakui masih ada sebagian komponen diimpor dari China dan Korea.
Salah satu lini bisnis Grup Djarum ini sejatinya sudah mengerek harga jual pada awal tahun. “Melihat kondisi ekonomi saat ini kami merevisi target pertumbuhan menjadi 15% sampai akhir tahun ini,” kata Santo Kadarusman, Manajer Penjualan dan Hubungan Masyarakat Polytron.
Sebelumnya Polytron menargetkan pertumbuhan bisnis sampai dengan 30% sepanjang tahun ini. Supaya target bisnis tercapai, Polytron bakal mengubah strategi penjualannya. Yakni perbanyak penjualan ekspor. Tadinya, komposisinya adalah 95% untuk pasar lokal dan 5% ekspor, kini menjadi 90% untuk lokal dan 10% untuk ekspor. Dengan langkah ini, Polytron berharap belum akan ada pemutusan kerja bagi karyawannya. “Namun kami tidak menambah jumlah karyawan baru,” katanya.
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar