Efek El Nino membuat produksi gula diprediksi hanya 2,5 juta ton tahun ini, namunproduksi ini dinilai cukup penuhi permintaan.
JAKARTA. Pengaruh musim kemarau panjang atau El Nino mulai menyapu industri gula di tanah air. Produksi tebu tahun ini diprediksi bakal menurun karena kekeringan.
Jika awal tahun, produksi gula diprediksi mencapai 2,71 juta ton, kemungkinan realisasinya bisa lebih kecil. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kemtan), total produksi gula baru sebanyak 1,24 juta ton dari penggilingan sebanyak 16,3 juta ton tebu. Artinya, produksi tebu ini baru 47,8% dari target tahun ini yang mencapai 34,15 juta ton.
Dengan musim panen dan giling tebu yang menyisakan dua bulan lagi, produksi gula tahun ini diperkirakan maksimal hanya 2,5 juta ton atau lebih rendah dari realisasi produksi gula tahun lalu yang meencapai 2,54 juta ton. Produksi 1,24 juta ton gula tersebut disumbangkan dari areal 225.000 ha dengan produktivitas 5,51 ton tebu per ha.
Adig Suwandi, Senior Advisor Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mengatakan, kemarau telah menganggu pertuimbuhan dan perkembangan tanaman tebu giling untuk tahun ini. Luas lahan tebu yang dipanen tahun ini sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
Pada tahun lalu, luas lahan tebu yang dipanen sebesar 473.000 ha, sementara pada tahun ini, lahan tebu yang dipanen untuk giling sampai Oktober 2015 sekitar 462.000 ha.
Meski ada indikasi produksi gula tahun ini tak tercapai, namun hal ini tidak membuat harga gula di tingkat petani naik tajam. Saat ini, harga gula masih bercokol di kisaran Rp 9.450 per kilogram (kg) – Rp 9.800 per kg.”Harga gula saat ini memang di atas patokan harga yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 8.900 per kg. tapi, harga itu masih jauh dari harapan petani untuk mendapatkan keuntungan yang wajar,” ujar Adig, Senin (7/9).
Tito Pranolo, Direktur Eksekutif AGI menambahkan, sampai bulan September ini, stok gula nasional hanya sekitar 470.000 ton. Dengan kondisi tersebut, sangat memungkinkan dilakukan impor gula meski tidak terlalu mendesak.
Menurut Tito, impor ini untuk mengamankan pasokan gula pada akhir tahun ini dan awal tahun depan. Dia bilang, sejumlah pabrik gula di Sumatra sudah mulai menggiling tebu lagi pada Februari 2016 dan April 2016.
Sekedar informasi, kebutuhan gula konsumsi berbasis tebu per tahun rata-rata mencapai 2,6 juta ton. Namun, kondisi ekonomi yang melemah tahun ini membuat konsumsi gula diperkirakan juga ikut turun.
Gamal Nasir, Direktur Jenderal Perkebunan Kemtan mengakui bahwa tahun ini produksi fula nasional meleset dari target yang ditetapkan pemerintah. Tapi, dia mengarisbawahi bahwa penurunan ini bukan disebabkan karena kemarau dan gagal panen, melainkan karena luas tanam kebun tebu tahun ini berkurang. “Tahun ini, petani banyak yang tidak menanam karena harga gula yang rendah pada tahun lalu,” ujar Gamal.
Meski bakal ada penurunan produksi, Gamal bilang, produks gula akan mencukupi untuk kebutuhan setahun. Dia mengaku telah berdiskusi dengan seluruh pabrik gula di tanah air dan diperkirakan produksi gula bisa mencapai angka 2,6 juta ton atau sesuai kebutuhan.
Alhasil, Gamal menegaskan, dengan produksi yang bakal sesuai dengan kebutuhan tahun ini, tak ada alasan untuk mengimpor gula konsumsi. “Kalau produksi mencukupi, impor gula tak diperlukan lagi. Apalagi, produktivitas lahan tebu tahun ini cukup baik, sehingga mampu menutup berkurangnya luas tanam,” tutur Gamal.
Sumber: KONTAN
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak

Tinggalkan komentar