Keran Ekspor Newmont Dibuka

NewmontJAKARTA. Angin segar menerpa PT Newmont Nusa Tenggara. Penambang asal Amerika Serikat ini mengklaim sudah mendapatkan rekomendasi Surat Persetujuan Eskpor (SPE) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Juru Bicara Newmont Nusa Tenggara, Rubi Purnomo mengatakan, bahwa pihaknya sudah mendapatkan rekomendasi SPE per tanggal 18 November kemarin. “Newmont telah mendapatkan rekomendasi perpajangan izin ekspor dari ESDM pada 18 November 2015,” terangnya ke KONTAN, Kamis (19/11).

Sejatinya, bila surat rekomendasi tersebut keluar, berarti Newmont telah berkomitmen mengembangkan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Salah satu langkahnya adalah sudah menggelontorkan sejumlah dana.

Newmont memang akan menjalin kerjasama dengan PT Freeport Indonesia untuk membangun smelter di Gresik. Namun, Rubi masih belum bersedia membocorkan besaran dana partisipasi Newmont di proyek smelter tersebut. “Kami terus melanjutkan komitmen kerja sama yang telah disepakati bersama Freeport Indonesia dalam nota kesepahaman (MoU),” tandasnya tanpa merinci.

Newmont memang ngebet ingin bisa mengantongi izin eskpor konsentrat tembaga. Soalnya, penambang ini berharap bisa mengekspor 500.000 ton komoditas tersebut untuk jangka waktu enam bulan ke depan. Sedangkan izin ekspor di periode Maret sampai September 2015 yakni 477.000 ton.

Bea keluar tetap

Menurut Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono, Newmont belum menyerahkan partisipasi pendanaan ke Freeport Indonesia. Newmont, kata Gatot, masih menunggu kerjasama definitif yang segera diteken kedua belah pihak.

Dalam kerjasama tersebut, nanti bakal ada penjelasan soal alokasi anggaran US$ 3 juta untuk membangun smelter. “Kami meyakini komitmen Newmont karena ada keterangan resmi dari Freeport (yang menyatakan Newmont siap tawarkan chip in atau partisipasi pendanaan US$ 3 juta),” ujarnya.

Kalau dilihat, dana partisipasi Newmont yang Cuma US$ 3 juta terlalu kecil bila dibandingkan nilai proyek smelter Gresik yang ditaksir US$ 2,3 miliar. Artinya, Cuma 0,13% dari nilai proyek.

Tapi, lantaran punya komitmen, menurut Bambang, Newmont telah memenuhi persyaratan yang dibutuhkan untuk mendapatkan rekomendasi SPE. “Jumat ini (20/11), rekomendasi SPE bisa terbit,” tandasnya.

Meski begitu, tarif bea keluar Newmont Nusa Tenggara tetap 7,5% untuk periode enam bulan ke depan. Tidak ada pengurangan. Padahal, Newmont berharap ada pengurangan tarif bea keluar menjadi 5%. Besaran tarif ini berdasarkan dari kemajuan proses pembangunan smelter di Gresik.

Saat ini, progress pembangungan smelter di Gresik memang ada kemajuan. Progres pembangunannya sudah mencapai 11%. Nah, penambang yang ketiban pulung dari progress pembangunan smelter tersebut adalah PT Freeport Indonesia. Tarif bea keluar yang sebelumnya 7,5% berkurang jadi 5% untuk enam bulan ke depan.

Menurut Gatot, pemerintah memberi kelonggaran khusus ke Freeport bukan Newmont. Meskipun kedua perusahaan ini menjalin kemitraan membangun smelter. “Yang action (membangun) Freeport. Lagi pula chip in Newmont di smelter belum dibayarkan ke Freeport,” ujarnya.

Tahun lalu, Newmont memproduksi 76.000 ons troi emas dan 156 juta pon tembaga.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: