Sektor konsumer tetap tahan banting

sekuritasDi pasar saham Indonesia, penurunan indeks sektor konsumer paling kecil

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah meluncur 13,55% sejak awal tahun. Seluruh sektor dalam jajaran indeks kompak merah. Meski begitu, dari sisi “kebakaran”, sektor konsumer terlihat paling kecil, dengan penurunan cuma 6,02%.

Di belakang sektor konsumer, sektor perdagangan, jasa, dan investasi turun 6,8% dan sektor keuangan menurun 8,14%. Analis First Asia Capital David Sutyanto mengungkapkan, sektor konsumer didukung sifatnya yang defensif. Apalagi tingkat konsumsi masyarakat tidak turun terlalu banyak. “Konsumer menjadi sektor pilihan di tahun depan,” kata David.

Analis LBP Enterprise Lucky Bayu menilai, fundamental sektor konsumer terlihat cukup bagus. Ia menyebutkan, masyarakat perlu menyadari kenapa Bank Indonesia (BI) tidak menurunkan suku bunga acuan alias BI rate. Padahal suku bunga acuan Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia. Menurutnya, itu merupakan indikasi, BI masih percaya diri dengan daya beli masyarakat yang mampu bertahan.

Kemudian sektor perdagangan, jasa dan investasi, menduduki posisi penurunan terendah nomor dua, menurut Lucky karena perilaku ekonomi Indonesia mulai berubah. Tadinya, Indonesia menganut perilaku ekonomi berbasis komoditas.

Kini, perilaku ekonomi menyasar produk barang dan jasa. Inilah yang menyebabkan sektor perdagangan, jasa, dan investasi masih moncer.

Walaupun sektor perbankan menduduki posisi ketiga dalam penurunan terendah, Lucky menyarankan pemodal menghindari saham-saham sektor ini. Banyak risiko yang dihadapi, seperti kenaikan suku bunga The Fed.Sedangkan David menilai, saham perbankan terkena aksi profit taking para pemodal asing.

Lalu sektor infrastruktur dan konstruksi yang semula digadang-gadang akan moncer justru terlihat biasa saja. Sejak awal tahun, sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi anjlok 19,66%. Kemudian sektor properti, real estate, dan konstruksi turun 8,83%.

Lucky melihat, sektor konstruksi mencatatkan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross di 4,9%. Ini sektor dengan NPL tertinggi di Indonesia. Ia menilai, banyak orang terpukau dengan rencana pemerintah yang ingin mendorong sektor konstruksi. Namun, Lucky dan David sepakat, pembangunan berjalan lebih lambat ketimbang harapan.

Dari beberapa sektor pilihan, David menjagokan saham INDF, ICBP, KLBF dan UNVR. Lucky merekomendasikan INDF, ICBP, UNVR, MPPA, RALS dan MAPI.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: