Dukung Produktivitas, Wapres Minta Bunga Kredit Turun

economy

Jakarta. Tantangan ekonomi yang berat pada tahun depan menjadi alasan Bank Indonesia (BI) untuk menerapkan kebijakan moneter yang konsisten dan hati-hati. Sejumlah risiko menjadi alasan mengapa kebijakan akan dilakukan pada 2016.

Gubernur BI Agus Martowardojo merinci sejumlah risiko. Pertama, prospek pertumbuhan ekonomi global tahun 2016 yang diproyeksikan hanya 3,5%. “Risiko koreksi akan terjadi terutama apabila pemulihan ekonomi China dan negara berkembang tidak sesuai harapan, “kata Agus dalam Pertemuan Tahunan BI di Jakarta, Selasa (24/11).

Geliat ekonomi China yang belum cukup kuat membuat negara ini mengubah perekonomian berbasis investasi ke konsumsi. Namun langkah ini akan memakan waktu lama sejalan dengan perkembangan demografi yang tengah memasuki aging population. Ini berisiko membawa ekonomi China ke pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah.

Kedua, proyeksi berlanjutnya penurunan harga komoditas. Hal ini membuat kinerja ekspor lemah dan menghambat pemulihan ekonomi. Apalagi, Indonesia masih bergantung pada ekspor yang berbasis sumber daya alam.

Ketiga, dampak global yang dapat timbul dari proses normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini membuat likuiditas dollar AS lebih ketat sehingga menopang penguatan nilai tukar dollar AS. Ini menyebabkan arus modal keluar makin besar. “Kita perlu mencermati dinamika global lain termasuk konstelasi yang menjurus peningkatan daya saing melalui mata uang (currency war), “ tambah Agus.

Dalam situasi itu, pengembangan instrument lindung nilai sangat mendesak. BI menilai, instrument itu makin penting dalam membantu pebisnis mengelola risiko nikai tukar.

Pada tahun depan BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,2%-5,6%, terutama bersumber konsumsi dan pengeluaran pemerintah. Sementara pertumbuhan kredit diperkirakan pada kisaran 12%-14%. Inflasi dan deficit transaksi berjalan masing-masing diperkirakan 4% plus minus 1% dan 2,88%.

Namun Wakil Presiden Jusuf Kalla sepertinya kurang setuju dengan langkah pengetatan moneter yang akan dilakukan BI menahan suku bunga tinggi. JK minta agar BI dan OJK menurunkan suku bunga perbankan untuk mendorong ekonomi. “Bagaimana mau perusahaan mau investasi kalau bunga kredit tinggi,” ujar Kalla.

Kalla bilang, pemerintah terus berupaya meningkatkan biaya ekonomi tinggi. Namun, otoritas moneter dan perbankan belum mendukung, Termasuk bunga ke UKM. JK minta bunga Kredit Usaha Rakyat dari 12% tahun ini jadi 9% pada tahun depan.

Sumber : KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: