Ekonomi Indonesia di Simpang Jalan

23Pertama kali sepanjang tahun ini, neraca dagang November tercatat minus

JAKARTA. Di luar dugaan! Inilah gambaran neraca pedagangan Indonesia pada November 2015. Saat mayoritas ekonom memproyeksikan bakal terjadi surplus, neraca dagang kita justru mencatatkan defisit sebesar US$ 346,4 juta di bulan November.

Ini adalah kali pertama di tahun 2015, neraca perdagangan kita mencatatkan defisit. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, penurunan ekspor yang lebih dalam menjadi sebab defisit neraca dagang. Kinerja ekspor November turun hingga 7,9% menjadi sebesar US$ 11,16 miliar, sementara impor justru ada kenaikan 3,61% dari bulan sebelumnya menjadi sekitar US$ 11,51 miliar.

Pemerintah menilai kenaikan impor bulan November menjadi pertanda ekonomi sedang bergerak. “Aktivitas industri menggeliat,” tandas Kepala BPS Suryamin. Apalagi kenaikan impor terjadi pada barang-barang yang mendukung pengembangan industri.

Dari nilai impor November 2015 sebesar US$ 11,51 miliar, golongan bahan baku / penolong memberikan peranan terbesar yaitu 74,03% dengan nilai US$ 8,52 miliar. Lalu, impor barang modal 17,54% dan impor barang konsumsi 8,43%. “Impor bahan makanan dan komoditi untuk tahun baru seperti gandum naik,” ujar Suryamin, Selasa (15/12).

BPS menilai bahwa bulan November menjadi titik balik pertumbuhan ekonomi RI. Bahkan ramalan Suryamin, puncak kenaikan impor akan terjadi pada Desember 2015.

Darmin Nasution, Menteri Koordinator Ekonomi setali tiga uang menyebut ada tanda-tanda pemulihan ekonomi dengan naiknya impor di November, meski geliat impor ini tak dibarengi dari sisi ekspor. “Masih lemahnya ekspor karena paket ekonomi belum banyak berpengaruh,” ujar Darmin. Apalagi, baru industri alas kaki dan tekstil yang merasakan manfaat atas paket kebijakan ekonomi.

Sebaliknya, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual justru meminta agar kita semua mencermati kinerja neraca dagang. Pasalnya, penurunan kinerja ekspor terhadap defisit neraca dagang bulan November ini jauh lebih besar dibanding impor.

Bahkan, “Ini terjadi di luar dugaan,” kata David, Selasa (15/12). Penurunan ekspor kali ini tak hanya dari sisi nilai akibat penurunan harga komoditas, tapi juga karena volume ekspor yang turun karena lemahnya permintaan di negara tujuan ekspor.

Maka itu, pemerintah harus lebih serius mendorong reformasi struktural dan mengembangkan industri manufaktur berorientasi ekspor demi mengurangi ketergantungan ekspor komoditas yang harganya belum akan pulih dalam waktu dekat.

Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan Doddy Arifianto menambahkan, tanpa ada perbaikan ekspor, pertumbuhan ekonomi timpang. Efeknya, pasokan valas kian seret. Ini bisa jadi pukulan bagi rupiah.

Agar ekonomi tetap bisa bergulir, pemulihan daya beli masyarakat bisa jadi pilihan. Penurunan harga BBM bisa jadi pilihan.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: