Bea Masuk Minuman Alkohol Diturunkan

JAKARTA. Pemerintah akan menurunkan tariff bea masuk minuman beralkohol, tahun ini. Pemangkasan tariff bea masuk itu merupakan langkah pemerintah untuk mengurangi penyelundupan.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Edy Putra Irawady mengatakan, saat ini bea masuk untuk minuman beralkohol sudah terlalu tinggi. “Akibatnya, banyak penyelundupan dan menurunkan penerimaan dari cukai alcohol,” ujar dia, Kamis (28/1).

Tanpa mengatakan berapa persen penurunan tariff bea masuk, Edy bilang, perubahan tariff akan dilakukan sehingga ada keseimbangan antara permintaan dan penawaran. “Jangan terlalu kecil atau ketinggian,” katanya.

Dengan perubahan tariff, diharapkan penerimaan bea masuk dari minuman mengandung alkohol pada tahun ini meningkat. Pada tahun 2015, menurut Edy Putra, realisasi penerimaan bea masuk minuman beralkohol mencapai sebesar Rp 2 triliun.

Selain bea masuk, pemerintah sebenarnya masih memiliki mekanisme cukai untuk menekan penggunaan minuman beralkohol. Namun menurut Edy, sistem cukai spesifik untuk minuman beralkohol sudah bagus penerapannya.

Rencana perubahan mekanisme bea masuk dan cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA) juga dikatakan Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro. Menurut dia, struktur bea masuk dan cukai perlu diubah untuk menekan lonjakan penyelundupan yang terjadi saat ini. Akibat penyelundupan, penerimaan negara tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut Bambang, Indonesia harus memiliki struktur bea masuk dan cukai yang dapat menekan impor illegal. Apalagi, peredaran minuman beralkohol berdampak negatif bagi kesehatan. Untuk itu, perubahan struktur kebijakan fiskal dan pembatasan jumlah kuota impor akan dilakukan. “Struktur bea masuk dan cukai akan membuat orang tidak terpancing impor illegal, Di sisi lain volume peredaran juga harus terkontrol,” katanya, Rabu (27/1).

Catatan Ditjen Bea dan Cukai menunjukkan, ada kecenderungan peningkatan kasus penyelundupan minuman beralkohol. Jika pada 2013, ada 444 kasus penyelundupan, pada tahun 2014 meningkat menjadi 631 kasus. Jumlahnya di tahun 2015 kembali meningkat menjadi 968 kasus. Pada tahun ini, sampai 26 Januari 2016, tercatat sebanyak 57 kasus impor minuman beralkohol illegal.

Bahkan pada Rabu (27/1) lalu, Ditjen Bea dan Cukai bekerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) telah menindak penyelundupan minuman keras (miras) senilai Rp 4,2 miliar.

Penindakan itu berhasil menahan satu container berisi 1.115 karton minuman beralkohol berbagai merek. Minuman diimpor oleh perusahaan berinisial PT AAB yang berlokasi di kawasan berikat di Bogor. “Perkiraan nilai Rp 4,2 miliar dengan kerugian negara Rp 8,2 miliar,” kata Bambang.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: