
JAKARTA. Kinerja ekspor masih belum bisa diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. Bahkan pemerintah memperkirakan, selama tahun 2016 ini ekspor masih akan terkontraksi sekitar 4%-6%.
Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong mengakui, di tengah perlambatan ekonomi global maka permintaan komoditas melemah. Menurutnya, surplus neraca perdagangan yang terjadi selama Januari-Maret 2016 bukan sesuatu yang menggembirakan. “Impor turun lebih dalam, bukan karena ekspor yang terdongkrak,” katanya, pada acara HSBC Economic Outlook 2016, Kamis (12/5).
Perkiraan kontraksi ekspor sebesar 4%-6% ini lebih rendah dari yang terjadi pada tahun lalu. Tom mengatakan, kontraksi ekspor tidak akan sebesar tahun 2015 yang mencapai 16%. Kontraksi pada kinerja ekspor terjadi karena harga komoditas yang masih dalam tren lemah.
Selain itu, dia beralasan, pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor juga masih belum pulih. “Kita belum kembali ke pertumbuhan yang positif tetapi trennya membaik,” katanya.
Walau masih belum pulih seperti sebelumnya, Mendag yakin kondisi tahun ini akan membaik, seiring dengan perbaikan ekonomi yang dari sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat. Dengan kondisi ini, Tom berharap, tahun ini menjadi periode stabilisasi. Baru setelah melewati periode stabilisasi, tren pertumbuhan ekspor akan terjadi.
Selain bergantung pada pertumbuhan ekonomi global, pemerintah akan terus mencari cara meningkatkan kinerja perdagangan. Diantaranya dengan gencar membuat perjanjian kerjasama perdagangan dengan sejumlah negara atau kawasan. Seperti, kerjasama ekonomi komperhensif (CEPA) dengan Uni Eropa dan Australia. Negosiasi perjanjian kerjasama itu ditargetkan rampung pada tahun 2017 dan 2018.
Ekonom HSBC untuk ASEAN, Su Sian Lim mengatakan, dengan pertumbuhan ekspor yang diperkirakan mengalami kontraksi, maka Indonesia hanya bisa mengandalkan konsumsi rumah tangga dan belanja modal melalui investasi dan belanja pemerintah.
Peningkatan investasi inilah yang kemudian membuat HSBC menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari sebelumnya 4,7% menjadi 5%. Namun angka ini masih lebih rendah dibandingkan target pemerintah sebesar 5,3%. “Pendorongnya adalah pertumbuhan investasi dan belanja pemerintah,” kata Lim.
Menurut Lim, penurunan pertumbuhan ekonomi tahun 2015 dan awal 2016 dipicu lemahnya harga komoditas. Namun, dia optimis, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Namun untuk itu diperlukan reformasi untuk menarik lebih banyak investasi, meningkatkan produktivitas, dan merangsang sumber pertumbuhan baru.
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar