Sempat Melar, Harga Karet Mengkerut Lagi

JAKARTA – Kenaikan harga karet di pasar global ternyata hanya berlangsung singkat. Euforia petani dan pelaku industry karet alam karena tampaknya harus diakhiri.

Lihat saja, pada pekan ketiga Mei 2016 ini, harga karet global berada di level US$ 1,5 per kilogram (kg) atau turun dari harga pada April lalu yang sempat menyentuh US$ 1,8 per kg. Tak pelak, penurunana harga ini langsung dirasakan oleh petani karet. Harga jual karet mereka yang sempat berada di level Rp 8.000 per kg kembali merosot ke harga Rp 5.000 – Rp 6.000 per kg.

Rontoknya harga karet global ini disinyalir sebagai dampak permainan spekulan yang kembali mengguyur stok karet ke pasar global, meskipun telah ada komitemen untuk pembatasan ekspor karet dari tiga produsen karet, yakni Indonesia, Thailand, dan Malaysia hingga 31 Agustus 2016.

Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkrindo) Lukman Zakaria mengatakan seharusnya harga karet tidak jatuh kalau pemerintah meningkatkan penyerapan karet dalam negeri sehingga ekspor benar-benar dibatasi.

Namun, yang terjadi justru pemerintah masih mengandalkan ekspor sebagai pasar utama karet, sehingga harga karet rentan dipermainkan spekulan global. “Ini permainan para spekulan yang hanya mencari keuntungan sesaat dan sudah pernah terjadi sebelumnya,” ujar Lukman kepada KONTAN, Senin (23/5).

Lukman menyatakan, ketika harga karet mulai melonjak, petani karet berharap harga karet bisa kembali ke tingkat idealnya, yakni sebesar Rp 12.000 per kg. Namun faktanya, harga karet hanya mampu mencapai seluruh dari target tersebut.

Janji pemerintah untuk menyerap karet sebanyak 500.000 ton untuk pembangunan infrastruktur tahun ini tak juga mampu menahan laju penurunan harga karet. Oleh karena itu, cara satu-satunya menghadap anjloknya harga karet adalah meningkatkan pembangunan industry hilir karet dalam negeri.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Azis Pane menambahkan, rendahnya harga karet di tingkat petani juga tak hanya disebabkan penurunan harga karet global. Tapi, panjangnya rantai pasokan karet yang membuat harga di tingkat petani anjlok. Selain itu, produktivitas petani karet juga belum membaik karena tak ada peremajaan kebun.

Asal tahu saja, saat ini, produktivitas kebun karet petani masih di bawah 1 ton per hectare (ha). Padahal, pemeirntah menargetkan prduktivitasnya bisa 2 ton per ha.

Sumber: Kontan, Selasa 24 Mei 2016

Penulis: Noverius Laoli

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: