Harga Pangan Masih Setinggi Awan

JAKARTA – Memasuki pertengahan bulan puasa, harga sejumlah komoditas pangan pokok masih tinggi. Padahal operasi pasar terus digelar, sementara pangan impor terus digerojok ke pasar.

Tiga komoditas pangan yakni daging sapi, bawang merah, dan gula pasir masih disorot. Sebab harganya melonjak tinggi sejak menjelang puasa lalu dan hingga kini masih setinggi awan.

Berdasarkan pantauan Bahan Pokok dan Strategis Direktorat Jenderal Perdagangan dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag), per Senin (20/6), rata-rata harga daging sapi mencapai Rp 115.100 per kilogram (kg). Posisi ini turun tipis dari harga rata-rata sebelumnya diatas Rp 120.000 per kg. Namun, harga tersebut masih jauh dari instruksi Presiden Joko Widodo yang menginginkan harga daging sapi hanya Rp 80.000 per kg.

Selain itu, harga bawang merah masih bertengger di level Rp 37.160 per kg dan belum bisa kembali ke titik normal ke posisi Rp 25.000 per kg. Begitu pula dengan gula pasir yang saat ini dijual dengan harga Rp 16.040 per kg. Padahal pemerintah ingin harga gula kembali ke level Rp 12.500 per kg.

Menurut Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi, masih tingginya harga daging sapi menjadi indikasi kuat bahwa upaya pemerintah menurunkan harga daging sapi lewat operasi pasar tidak berhasil. “Daging yang dijual lewat operasi pasar adalah daging sapi beku impor, sementara yang disukai masyarakat adalah daging sapi yang baru dipotong,” ujarnya kepada KONTAN, Selasa (21/6).

Ikhwan Arif, Sekjen Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) menambahkan, harga bawang merah yang masih berada di level Rp 37.000 per kg bukan karena kurangnya pasokan, melainkan karena harganya yang memang sedang tinggi. Dia menyatakan, dalam panen terakhir, petani harus membeli benih dengan harga tinggi sehingga sulit menekan harga panennya.

Abdullah Mansuri, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyebutkan, harga gula di sejumlah daerah tetap tinggi meskipun guyuran pasokan gula lewat operasi pasar terus dilakukan. Hal ini terjadi akibat harga sudah terlanjur tinggi sejak awal puasa. Apalagi, kebutuhan gula konsumsi saat puasa relatif meningkat ketimbang biasaynya.

Fenomena harga gula ini harus jadi fokus pemerintah. Sebab, selain harganya yang masih tinggi, pasokan gula di sejumlah daerah juga seret.

Naik lagi pekan depan

Menurut Abdullah, ada kejanggalan pada tiga komoditas ini. Umumnya, harga pangan bisa melandai pada pekan kedua dan ketiga puasa. Sebab pada periode itu konsumsi menurun ketimbang pekan pertama bulan puasa. “Harga pangan harusnya turun di paruh bulan puasa karena konsumsi turun sekitar 15% dibandingkan dengan awal puasa,” ujarnya.

Sulitnya menurunkan harga daging, bawang merah dan gula, bisa membikin pelik di pekan-pekan mendatang. Sebab, menjelang Idul Fitri, komoditas pangan lainnya seperti beras, telur ayam, daging ayam, dan sayur-mayur akan mulai naik. Prediksi Abdullah, kenaikan harga sejumlah bahan pangan itu sekitar 20% daripada harga yang berlaku saat ini. Periode ini paling krusial dan menjadi ujian sesungguhnya bagi pemerintah. Abdullah menyatakan, selain mewaspadai lonjakan harga, pemerintah harus mencermati sisi pasokan pangan dan distribusinya. Maklum, masyarakat cenderung memborong bahan pangan pada pekan terkahir puasa.

Sumber: Kontan, Rabu 22 Juni 2016

Penulis:  Adisti Dini Indreswari, Noverius Laoli, Fahriyadi

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: