Racikan Resep Kisruh Pangan

Menginjak bulan ketiga setelah pertengahan Mei lalu Presiden Joko Widodo menginstruksikan tiga menteri menurunkan harga pangan, seperti daging, beras, gula dan bawang merah, nyatanya harga sebagian besar komoditas itu tetap bertahan tinggi. Padahal, target jangka pendek semula adalah harga bisa turun dan stabil sebelum Lebaran, awal bulan ini. Kini, tiga minggu lewat Lebaran, tren penurunan harga komoditas yang setiap tahun terjadi justru malah tidak terlihat.

Harga komoditas pangan, yakni daging, gula dan bawang merah masih bertahan tinggi. Menurut situs infopangan jakarta.go.id di beberapa pasar di Jakarta, daging sapi bertahan di harga Rp 110.000 sampai Rp 140.000 per kilogram (kg). Begitu pula pasar bertahan di harga Rp 15.000 sampai Rp 17.000 per kg. Harga bawang merah pun bertahan di Rp 35.000 sampai Rp 50.000 per kg. Bukannya turun, justru tren harga tiga komodtas itu cenderung naik kalau dibandingkan posisi awal Juli.

Padahal, berbagai strategi sudah disusun pemerintah, termasuk membuka keran impor, khususnya gula dan daging. Produsen lokal pun juga sudah menurunkan harga, khusus untuk mendukung pemerintah dalam operasi pasar. Dengan kewenangan sebagai regulator, kementerian Pertanian (Kemtan) dan Kementerian Pedagangan (Kemdag) sudah member iming-iming insentif bagi produsen dan distributor yang mau mendukung pemerintah, misalnya lewat jaminan kemudahan izin impor. Tapia pa daya, resep itu seperti tak manjur. Harga pangan seolah bergeming.

Di sisi lain, harga beberapa komoditas yang bertahan tinggi member angin segar bagi para produsen. Para petani bang di sentra produksi bawang Jawa Tengah dan Jawa Barat ikut senang, panennya laku dengan harga tinggi. Meski masih khawatir dengan gula impor, petani tebu tidak anjlok seperti biasanya. Peternak sapid an kebau juga sudah nyaman dengan harga pasar yang sudah di atas biaya produksi.

Kondisi ini memang menjadi dilematis. Di satu sisi konsumen menjerit karena harga-harga kebutuhan naik, di sisi lain produsen bersyukur karena masih bisa mendapat untung karena harga tidak anjlok saat panen. Jika ingin konsisten dengan target pemerintah untuk swasembada pangan, satu langkah sudah dilalui. Pelaku komoditas di sisi hulu semangat berproduksi karena panennya diserap dengan harga tinggi. Ini menjadi modal bagi mereka untuk menghasilkan lebih banyak lagi. Soalnya sudah jelas terlihat bahwa permintaan pasar besar sampai pasokan tak bisa memenuhi.

Namun, harha tinggi yang salah satu sebabnya karena pasokan (produksi) terbatas, sedangkan keran impor diketatkan, ditambah tata niaga yang tak terkendali menimbulkan pertanyaan besar soal lemahnya ketahanan pangan kita. Gejolak harga pangan menunjukkan bahwa pasokan kebutuhan pangan masyarakat belum cukup. Jika ngotot mempertahankan produksi dalam negeri (kedaulatan pangan) yang masih terbatas, risikonya adalah terjadi gejolak distribusi dan harga pangan. Selain berisiko memicu gejolak social, ekonomi dan politik yang dipertaruhkan adalah kepercayaan rakyat pada kemampuan pemerintah.

Kinis masyarakt menunggu racikan resep jitu menteri ekonomi baru yang mengelola pangan, seperti Kemdag, Kemtan dan Kementerian Perindustrian untuk menyemangati petani berproduksi sekaligus menjamin kepastian harga lewat pasokan pangan yang cukup.

Sumber : Tabloid Kontan

Penulis : Bagus M

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: