Masalah Bukan Hanya Rupiah Melemah

index

Rupiah melemah lagi. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardjojo dalam keterangan hasil rapat Dewan Gubernur mengatakan, sejak awal hingga Rabu (16/11) bulan ini, depresiasi nilai tukar rupiah sebesar 2,53% menjadi Rp 13.378 per dollar AS. Penyebabnya, peningkatan ketidakpastian ekonomi global setelah Pemilu Amerika Serikat (AS).

Kabar baiknya, tekanan terhadap rupiah masih mendingan dibandingkan mata uang negara berkembang negara lain. Selain itu, menurut Chief Economist Bank Mandiri Anton H. Gunawn, masih ada ruang penguatan rupiah, terutama pada 2017.

Sejak awal tahun (year to date/YTD) rupiah tercatat masih menguat 2,97%. Meski begitu Agus bilang, BI tetap akan mengambil langkah stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya. “Dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar,” ujarnya, Kamis (17/11).

Kabar lebih bagus lagi, kepercayaan dunia bisnis terhadap BI tidak susut. Semua pengusaha dan asosiasi usaha yang dihubungi KONTAN kompak satu suara: samasekali tak meragukan kemampuan BI menjaga nilai rupiah tetap stabil.

Mereka percaya, BI akan cepat beraksi dengan intervensi rupiah jika nilai tukarnya terhadap dollar AS cukup liar, entah itu menguat atau melemah.

Wajar, kata Presiden Direktur PT Panggung Electric Citrabuana Ali Soebroto, bagi pengusaha, kondisi stabil lebih penting ketimbang nilai tukar melemah atau menguat. “Kalau pun melemah, saya yakin tahun ini atau tahun depan, tak akan parah,” ujar Ali yang juga Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik ini.

Lindung Nilai

Rupiah jatuh tajam pada Jumat (11/11) yang menyentuh Rp 13.838 dari sebelumnya di kisaran Rp 13.394  per dollar AS. Bukan Cuma menjadi perhatian Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saja, tapi juga para pengusaha yang sontak makin intens memperhatikan pergerakan grafik nilai tukar rupiah. Khususnya, para importir.

Saat rupiah tersungkur, biasanya para importir akan merugi lantaran harus menyiapkan modal lebih besar saat impor. Selain itu, kata Enggartiasto, lemahnya rupiah juga akan menyulitkan penentuan harga produk. “Kalau rupiah enggak stabil, kegiatan ekspor-impor akan jadi sorotan,” ujarnya.

Pelemahan rupiah yang tiba-tiba tersebut, terjad akibat efek Donald Trump menjadi presiden. Pasar merespon apa yang disampaikan Trump saat kampanye bahwa AS akan memproteksi pasar dalam negeri di tengah perlambatan ekonomi Uni Eropa dan Tiongkok. Sehingga,  ekspor harga berkembang bisa terhambat.

Untuk mengantisipasi pelemahan rupiah, perusahaan biasanya akan menerapkan lindung nilai alias hedging. Bagi S.P. Garg, Chief Financial Officer PT Mutu Gading Tekstil, tidak ada cara lain bagi perusahaan atau importir selain hedging dalam rangka antisipasi pelemahan nilai tukar rupiah. “Caranya sama saja. Selalu hedging,” tegasnya.

Lindung nilai akan mengurangi beban para importir saat rupiah melemah karena merak mematok nilai rupiah sebelum terjadi perlemahan. Sebaliknya, mereka yang tidak hedging, terpaksa terpukul lantaran modal yang keluar harus lebih mahal mengikuti nilai dollar AS saat itu juga.

Direktur PT Indorama Polychem Indonesia Saurabh Mishra sepakat dengan Ali. Kestablian lebih penting bagi pengusaha ketimbang bergerak naik-turun tak menentu. Meski, menurutnya, nilai rupiah yang nyaman bagi importir dan eksportir selemah-lemahnya Rp 13.500 per dollar AS.

Alasannya sederhana. Bagi Ali, depresiasi rupiah di kisaran 5% masih bisa diterima oleh pengusaha. Istilahnya, masih oke. Namun di atas itu, para importir biasanya terpaksa berdarah-darah. “Mau lindung nilai ya tidak mungkin kalau, misalnya, rupiah jatuh 20%,” tegas Ali.

Asal tahu saja, lemahnya rupiah selalu jadi masalah karena impor masih mendominasi mayoritas bahan baku industri di Indonesia. Sementara itu, ekonomi masih bersandar pada pasar domestik. Sehingga, saat rupiah melemah, bukan hanya membebani industri, khususnya yang berbasis bahan baku impor, melainkan juga menjadi beban bagi perekonomian Indonesia. Apalagi, kalau pelemahan rupiah itu menjauhi nilai fundamental ekonomi.

Oleh karena itu, tidak hanya menerapkan deregulasi berupa paket-paket kebijaakn ekonomi, namun penting bagi Pemerintah segera memprioritaskan ekspor sebagai pasar prioritas utama.

Selain itu, menurut Ekonomi Destry Damayanti, produk yang berorientasi pasar domestik, sedapatnya harus memakai bahan baku lokal.

Faktor lain yang mempengaruhi, industrialisasi manufaktur Indonesia yang sangat lemah. Ini membuat ekspor justru terus merosot 15 tahun terakhir. Selain itu, imbuh Sekjen Gabungan Importir Indonesia Achmad Ridwan daya saing pun rendah. Ini karena Pemerintah terlalu lambat merespon Free Trade Agreement terutama di sisi hukum. “Bisnis sudah biasa antisipasi rupiah. Tapi eksor-impor ini,lo. Business is borderless,” tegasnya.

Rupanya, rupiah bukan satu-satunya masalah, ya?

Penulis: Andri Indradie, Tedy Gumilar, Arsi Ani S., Dian Sari P.

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Pemeriksaan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: