Siapkan Jangkar, Badai Belum Berakhir

Dalam beberapa bulan terakhir, mata uang rupiah bergerak ibarat permainan roller coaster. Sebentar di atas, berputar-putar, lalu sejurus kemudian meluncur kebawah seolah tak tertahankan melawan gravitasi. Menantang sekaligus menegangkan.

Tengok saja, belum ada dua bulan, tepatnya pada 28 September 2016 rupiah menunjukkan keperkasaan terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Kala itu, berdasar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), mata uang garuda berhasil bertengger di Rp 12.926 per USD. Ini adalah titik terkuat dan kali pertama rupiah masuk ke level Rp 12.000-an per USD sejak 6 Mei 2015.

Keperkasaan rupiah itu muncul seiring kesuksesan program pengampunan pajak (tax amnesty) periode pertama. Saat itu cadangan devisa juga tembus US$ 115,671 miliar. Disokong masuknya dana repatriasi, hasil lelang surat berharga Bank Indonesia (BI), dan pemasukan devisa migas.

Namun, kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS membalikkan semua harapan dan ekspektasi. Dalam semalam pada Kamis, 11 November 2016 waktu Indonesia, rupiah bersama mata uang negara lain langsung ambrol. Di pasar spot nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terkapar hingga sempat menyentuh Rp 13.800-an per USD.

Memang, BI bergerak cepat dengan melakukan intervensi. Keesokan harinya, IDR/USD berhasil dikatrol ke kisaran Rp 13.200-an per USD. Kini fluktuasi rupiah kembali terjaga sehingga relatif stabil.

Persoalannya, belum ada sentimen yang bisa memberikan keyakinan bahwa kondisi serupa, meski dalam derajat yang berbeda, tidak akan terulang. Sebab kenyataanya badai memang belum berakhir.

Pada 14 Desember 2016 The Federal Reserve (The Fed) akan memutuskan nasib suku bunga acuannya. Jauh-jauh hari banyak pihak yang sudah memprediksi kenaikan Fed Funds Rate bakal terjadi di Desember 2016. “Pada pertemuan awal bulan ini, komite (The Fed) menilai kenaikan (federal funds rate) bisa terjadi segera jika data-data yang dirilis sejalan dengan sasaran komite,” kata Janet Louise Yellen, Ketua Dewan Gubernur The Fed, 17 November 2016 waktu setempat.

Survei terbaru yang digelarr Bloomberg menyebut 96% analis yakin Fed Fund Rate akan kembali didongkrak ada Federal Open Market Committe (FOMC) terakhir tahun ini. Pada pekan kedua November 2016, probabilitasnya baru 80%.

Jika prediksi ini terbukti, USD pun bakal kian perkasa. “Inflasi di AS tinggi, kemungkinan kenaikkan suku bunganya lebih besar,” kata ekonom Bank Mandiri, Reny Eka Putri.

AS belum berubah

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara menyebut, kondisi yang terjadi beberapa hari terakhir pasca kemenangan Trump baru sebatas ekspektasi. Janji kampanye Trump yang memprioritaskan ekonomi domestik memunculkan predisiksi daya beli masyarakat di negeri Paman Sam bakal membaik.

Manajer keuangan global lantas melihat hal ini sebagai peluang untuk memulangkan dananya ke AS. Lalu, terjadilah restrukturisasi asetd-aset global berupa perpindahan dana dari emerging market seperti Indonesia ke AS. “Kalau mau kritis, fundamental AS juga belum ada yang berubah. Karena (Trump) belum resmi jadi presiden yang diambil,” ujar Suahasil.

Meski begitu, dia memastikan pemerintah terus mewaspadai perkembangan yang ada. Ia mengakui, beberapa waktu ke depan adalah masa-masa kritis penuh ketidakpastian. “Kita waspadai marketnya, waspadai variabeld sektor keuangan, kurs, dan pasar SBN (Surat Berharga Negara-red),” ujarnya.

Kenyataanya, dana asing dalam jumlah besar memang telah pulang kampung. Di pasar saham, sejak awal November 2016 hingga 17 November 2016, net sell asing tercatat mencapai Rp 6,79 triliun. Lonjakan terbesar terjadi sejak 11 November 2016 dengan akumulasi net sell investor asing sebesar Rp 5,52 triliun.

Suahasil mencoba menenangkan dengan menyebut fenomena tersebut hanya bersifat sementara. Pasalnya, ia yakin fundamental ekonomi Indonesia masih baik-baik saja.

Toh, berdasar perhitungannya, sejak awal tahun di pasar saham asing masih menorehkan net buy sekitar Rp 20,5 triliun. “Enggak perlu panik, karena bagi masyarakat dunia kita masih dianggap sebagai tempat yang positif,” ujar Suahasil.

Lagipula, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang masih dalam teritori positif. Per 17 November 2016, indeks saham sudah naik 12,56% (year to date).

Anil Kumar punya keyakinan yang sama. “Fixed Income Portofolio Manager PT Ashmore Asset Management Indonesia, itu percaya, tidak akan ada capital outlflow besar-besaran di pasar obligasi.

Sejak awal, portofolio investor asing memang lebih banyak di obligasi jangka pendek. Kata Anil, ini menandakan mereka sudah mengantisipasi jikalau Trump  terpilih sebagai presiden. “Saya tidak melihat ada kemungkinan capital outflow terlalu tinggi  selama rupiahnya stabil,” tandas Anil.

Suahasil sendiri masih percaya diri, asumsi nilai tukar rupah terhadap dollar AS hingga akhir tahun masih berada dalam batas aman. Tahun ini pemerintah mematok asumsi kurs di Rp 13.300 per USD.

Bank Mandiri, kata Reny, malah lebih optimistis. Dengan segala tantangan yang dihadapi tahun ini dan tahun depan secara rata-rata rupiah bisa bertahan di Rp 13.100 per USD hingga Rp 13.200 per USD.

Kalau pun ada fluktuasi, imbuh Anil, sepanjang masih dalam batas plus minus 1% dari asumsi pemerintah, pengaruhnya tidak akan signifikan. “Yang penting tidak ada gangguan politik. Biarkan pemerintah bekerja,” tandasnya.

Tidak diganggu saja udah kerepotan, ya, pak!

Penulis: Tedy Gumilar, Andri Indradie, Arsy Any Sucianingsih

Sumber : Tabloid Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: