Bobot Sapi Bakalan Tuai Pro Kontra

listrik

Kementan khawatir tak ada nilai tambah bagi industri penggemukan sapi lokal jika bobot sapi bakalan mencapai 500 kg per ekor

JAKARTA, Selisih paham dalam internal pemerintah kembali terjadi soal rencana menerapkan kebijakan di sektor pertanian. Salah satunya, usulan Kementerian Perdagangan untuk merelaksasi aturan impor sapi bakalan dengan menaikan batas maksmal bobot sapi bakalan ditolak oleh Kementerian Pertanian.

Kemendag mengusulkan agar bobot berat maksimum impor sapi bakalan ditingkatkan dari 350 kg menjadi 500 kg, namum Kementan menolak usulan tersebut.

Alasannya, bobot berat sapi bakalan 500 kg dinilai tidak ideal dan menguntungkan bagi perusahaan penggemukan sapi atau feed loter. Selain itu, kebijakan ini berpotensi untuk disalahkan oknum tak bertanggung jawab.

Selama ini rata rata berat sapi bakalan impor 350 kg. Namun, Kemendag melobi Australia, satu satunya pemasok sapi bakalan ke Indonesia,  untuk menurunkan harga daging sapi baalan dengan imbalan Kemendag akan melakukan relaksasi bobot impor sapi bakalan hingga 00 kg. Bahkan, untuk kesepakatan itu Australia mau menurunkan harga sapi bakalan impor sebesar US$ 1 per kg.

Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan I. Ketut Diarmita mengatakan, setelah dipelajari, relaksasi bobot impor sapi bakalan harusnya dibawah bobot 500 kg.

Pasalnya bila bobot ini diloloskan, maka sapi bakalan tersebut bakal sulit untuk digemukan lagi. “Kalau misalkan sapi berbobot 500 kg harus digemukan selama empat bulan lagi, kemungkinan penambahan berat badannya tidak ada lagi, yang ada hanya penambaha lemak,” ujar Darmita , Senin (9/1)

Menurut Diarmita, tujuan Undang Undang (UU) Peternakan dan Kesehatan Hewan memberikan waktu empat bulan penggemukan adalah untuk mendapatkan berat adan ideal dan adanya nilai tambah pada sapi yang diimpor. Namun, bila bobot sapi yang diimpor sudah 500 kg, maka kementan berkesimpulan sudah tidak ada lagi nilai tambah dari industri lokal.

Selain itu, Kementan juga khawatir feedloter bisa saja memotong sapi bakalan tersebut sebelum menginjak usia empat bulan penggemukan karena berat badannya sudah tidak bertambah lagi.

Untuk itu, Diarmita mengaku telah menyampaikan hal ini kepada Menteri Perdagangan Enggaristo ukita untuk melakukan negosiasi ulang dengan pihak Australia. Kementan mengusulkan agar bobot sapi bakalan itu 250 kg- 400 kg per ekor. “Maksimal 450 kg masih bisa ada peluang bertambah bobot 50 kg lagi,” imbuhnya.

Aturan tidak laku

Menanggapi penolakan Kementan ini, Enggariasto mengaku kan segera menggelar komunikasi ulang dengan Australia untuk mempercepat kepastian soal bobot impor sapi bakalan ini. Sebab, keputusan harus segera diambil bulan ini juga untuk mempersiapkan pemasukan sapi bakalan menyambut Lebaran tahun ini.

Anggota Dewan Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gaspupindo) Achmad menyebut para importir sapi bakalan lebih senang tidak ada pembatasan bobot impor sapi bakalan secara aku seperti yang ditetapkan saat ini. Ia bilang importer sapi paham berat ideal sapi bakalan tersebut.

Menurutnya, importer harusnya diberikan kebebasan memilih sapi dengan bobot antara 200 kg-500 kg agar memudahkan importer untuk melakukan seleksi sapi sebelum impor. “Kalau dibatasi beratnya, seleksinya akan sulit dan ujung ujungnya biayanya besar dan ini tidak efisien ujarnya.

Namun, Achmad juga setuju bila berat sapi bakalan impor tidak berlebihan sehingga masih memungkinkan digemukan lagi. Sebab bila terlalu berat akan boros biaya pemeliharaan dan terlalu kecil penambahan bobotnya selama proses penggemukan.

Stok Sapi Lebaran Aman

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) mengeluarkan rekomendasi impor sapi bakalan 155.950 ekor pada kuartal pertama tahun 2017 tahun ini. Sapi tersebut diperkirakan setara daging sebesar 31.190 ton.

Adapun, ketersediaan sapi siap potong di dalam negeri diperkirakan mencapai 391.828 ekor atau setara daging 78.366 ton. Rinciannya pada Januari 2017 sebanyak 39.281 ekor dan Mei 155.950 ekor. Ketersediaan sapi siap potong tersebut merupakan realisasi dari rekomendasi impor sapi bakalan yan sudah dikeluarkan selama 2016 silam.

Untuk mengantisipasi kebutuhan lebaran tahun ini, penmerintah menghitung butuh sebesar 300.000 ekor sapi segar yang bisa langsung dipotong. “Dengan stok sapi selama bulan Januari sampai Mei yang direkomendasinya sudah dikeluarkan pada tahun lalu, kami optimistis kebutuhan daging saat lebaran nanti akan aman,” ujar Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kemenntan I. Ketut Diarmita, Senin (9/1)

Diarmita mengatakan rekomendasi impor untuk sapi bakalan tahun ini bisa ditambah lagi bila feedloter mampu merealisasikan impor sapi sesuai dengan rekomendasi yang sudah diterbitkan. Sebab selama ini  feedloter kerap tidak mampu merealisasikan izin yang diberikan pemerintah.

Sumber: Harian Kontan, Selasa, 10 Januari 2017

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: