Status demi Aman dan Nyaman

878070_01541622012017_ojk

OJK terbitkan beleid fintech pinjaman peer to peer

Banyak jalan menuju roma. Peribahasa ini erin menjadi senjata kala seseorang terdesak akan kebutuhan dana. Artinya, dikala satu pintu sumber pinjaman tertutup, mereka pasti akan mencari pintu lain demi mendapatkan dana segar. Sumber dana segar yang dituju antara lain bank, jasa gadai, perusahaan pembiayaan, pinjaman dari orang terdekat, bahkan rentenir. Segala risiko pasti berani diambil.

Sementara itu si pemilik dana pun tak mau kehilangan celah.  Ketika tak bisa menyalurkan dana ke pihak-pihak yang kurang memenuhi syarat, dia bakal mencari tangan lain untuk bisa mengulurkan dana itu, misalnya bank.

Bank punya standar untuk memberikan pinjaman pada nasabah, ketika persyaratan tak terpenuhi tentu akan ditolak. Namun bank tak mau kehilangan akal, mereka menggandeng pihak ketiga untuk menyalurkan dananya ke nasabah yang bankable itu.

PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (Bank Woori Saudara ), Selasa  (24/1) lalu, menjalin kerja sama dengan PT investree Radhika Jaya  (investree) peer  to peer lending. Investree merupakan layanan keuangan berbasis teknologi alias financial technology (fintech).

Istilah fintech ini makin booming di Indonesia sejak tahun lalu. Satu demi satu perusahaan fintech bermunculan . Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut pertumbuhan jumlah penyelenggara fintech start-up  di tahun 2016  telah meningkat sekitar tiga kali lipat dari sekitar 51 perusahaan pada triwulan I 2016 menjadi  135 perusahaan pada triwulan IV 2016.

Ada beberapa jenis layanan fintech antara lain pembayaran, peminjaman (lending), dan perencanaan keuangan.

Terkait dengan fintech pinjaman, akhir tahun lalu OJK menggelontorkan POJK nomor 77/POJK.01/2016 tentang layanan Pinjam-Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Beleid ini khusus menatur soal fintech peer to peer lending

Fintech peer to peer lending memiliki cirri khas pendanaannya bersumber dari investor yang tidak terkait dengan fintech hanya berperan sebagai broker yang mempertemukan investor pemilik dana dengan calon peminjam .

Kebijakan ini menegaskan aturan main bagi pelaku fintech peer to peer lending demi lini layanan keuangan ini bisa berkembang sekaligus memberikan perlindungan bagi nasabahnya. Pelaku harus mengajukan pendaftaran. Selama setahun setelah pendaftaran  mereka harus melakukan kegiatan usaha dengan pendampingan OJK. Setelah itu mereka wajib mengajukan perizinan pada OJK.

Di pasar sendiri, juga ada istilah fintech balance sheet lenders. Ciri khas fintech kategori  ini sumber pendanaanya berasal dari kocek sendiri. Dan OJK tidak mengatur fintech jenis ini sebab sudah ada aturan on balance sheet yang sudah di terbitkan   untuk perbankan perusahaan pembiayaan (multifinance ), dan gadai swasta.

Jadi, pebisnis yang masih menjalankan fintech balance sheet lenders harus segera memilih kategori bisnis yang dijalani. Bila mereka tetap menjalankan bisnis dengan balance sheet lenders, berarti mereka harus mengurus izin usaha pembiayaan atau jasa gadai.

Siap memilih kategori fintech

Founder Pinjam.co.id Teguh Basuki Ariwibowo mengatakan, bisnisnya masuk dlam kategori on balance sheet lenders. “ untuk itu kami akan menaati peraturan. Saai ini kami sedang dalam proses pendaftaran izin untuk menjadi perusahaan pegadai swasta di OJK,” katanya.

CEO  dan co-founder UangTeman Aidil Zukifli mengatakan, saat ini uangteman  bukan lagi dikategorikan sebagai peer to peer landing. Sebab fintech ini sudah memberikan pinjaman kepada nasabah dari uang sendiri. “ kami tidka menghimpun dana dari masyarakat, bik ritel atau institusi. Jadi uang itu, uang kami sendiri. Risiko juga kami tanggung sendiri di perusahaan, “ kata Aidil.

Namun demikian, Aidil mengaku bakal patuh pada OJK untuk mendaftarkan  jenis usaha yang bakal dipilih. Untuk itu, saat ini pihaknya tengah mempersiapkan diri untuk masuk ke kategori peer to peer lending. “secepat mungkin kami akan daftar, kami yang pertama di bisnis ini. Jadi harus menjadi yang pertama pula untuk mendapatkan izin OJK,” ujar Aidil

Agar nasabah merasa aman dan nyaman

Tampaknya persyaratan yang diajukan  oleh OJK bagi pelaku fintech peer to peer lending  ini tak begitu memberatkan. Misalnya modal minimal Rp 1 miliar dan tidak perlu buka cabang alias cukup 1 kantor. “risk manajemennya juga lebih sederhana, sistem pelaporannya lebih sederhana, permodalannya juga lebih sederhana. Pokoknya tak sekomplek  aturan mendirikan perusahaan pembiayaan,” mata Dumoly Pardede, Deputi komisioner pengawas Industri Keuangan NON Bank OJK.

Co-founder &CEO Investree Adrian Gunadi mengatakan, pihaknya terlibat dalam perumusan beleid yang di teken OJK. Bahkan sejak awal, pihaknya sudah menggodok beleid itu bersama OJK.” Jadi kalau dilihat setelah beleid itu jadi, tak banyak koreksi , kok.  Ketentuannya sudah sesuai dengan industri fintech  sendiri dan sesuai dengan ekspektasi,” katanya. Beleid itu juga sudah esensial pada perkembangan peer to peer di Indonesia

Dengan adanya kebijakan ini, OJK berharap nasabah aman untuk bertransaksi. Penyelenggara antara lain wajib menyediakan escrow account dan virtual account di perbankan serta menempatkan data cemter dalam negeri.

Melalui aturan ini pula, penyedia layanan keuangan digital ini harus memberikan fasilitas-fasilitas keamanan bagi nasabah. Antara lain, nasabah harus mendapatkan penjelasan produk dengan baik . tidak boleh miss leading atau miss promotion. Nasabah juga harus disediakan akses pada lembaga tersebut untuk meminta penjelasan . Bila ada complain dari nasabah harus dilayani.

Bila ada pengaduan harus ada metode atau prosedur di lembaga itu untuk meyelesaikan masalah. Kalau tidak bisa diselesaikan, nasabah harus mengadukannya ke OJK. Dan bilamana posisi nasabah benar, maka OJK  akan meminta perusahaan menyelesaikan masalah itu. Kalau tidak ya bakal kena sanksi. “Dengan ada kebijakan ini setidaknya nasabah tahu kepada siapa akan mengadu ketika ada masalah dengan pelaku usaha fintech,” katanya.

Sekalipun nasabah sekarang sudah terlindungi dengan beleid ini, sebaiknya juga harus jeli memilih produk dan layanan yang ditawarkan oleh lembaga usaha fintech lending.

Sumber: Tabloid Kontan, 30 Januari-5 Febuari 2017

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: