Daya Beli Lesu Pukul Industri Manufaktur

JAKARTA. Industri pengolahan atau manufaktur masih sulit bangkit. Survei kegiatan usaha terbaru Bank Indonesia (BI) menyebut: kapasitas produksi terpakai (utilitas) industri manufaktur terendah di kuartal pertama 2017.

Kapasitas produksi industri manufaktur rata-rata hanya 74,01%. Angka itu lebih rendah dibanding utilisasi rata-rata industri lain yang mencapai 76,92%, bahkan bisa naik ketimbang periode sama 2016 yang mencapai 76,28%.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, kondisi ini sejalan dengan kegiatan industri pengolahan. “Pada  kuartal I-2017, industri manufaktur mengalami kontraksi,” ujar Tirta, Selasa (11/4).

Penurunan kegiatan usaha industri pengolahan terjadi lantaran Purchasing Manager Index (PMI) pada kuartal I-2017 turun menjadi 47,93%, dari kuartal sebelumnya 50,91%. Seluruh komponen indeksi turun, baik itu dari volume produksi hingga pemesanan.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, turunnya utilisasi industri pengolahan menunjukkan kegiatan ekonomi kuartal I-2017 belum menunjukkan perbaikan signifikan. Peningkatan ekonomi masih terbatas di jasa dan perkebunan, terutama didorong peningkatan harga komoditas. “Di ekonomi kita struktur terbesar menufaktur dan perkebunan,” katanya.

Sektor manufaktur melambat karena mengandalkan permintaan dalam negeri. Adapun, permintaan dalam negeri tertahan akibat kenaikan tarif dasar listrik. Maka, ia memprediksi, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2017 di kisaran 5%-5,1% dengan kecenderungan batas bawah.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menambahkan, pelambatan manufaktur sejalan dengan lemahnya konsumsi masyarakat. Ini tercermin dari penjualan ritel yang turun.

Data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat, penjualan kuartal I-2017 turun 25% secara tahunan. “Daya beli rendah, kemampuan beli turun, manufaktur terdampak,” kata Lana.

Sektor pengolahan juga jadi sektor terbesar penyumbang kredit. Walhasil, pertumbuhan kredit perbankan yang stagnan sejalan dengan perlambatan manufaktur. “Saya perkirakan kuartal dua kegiatan usaha akan meningkat karena ada puasa dan lebaran,” ujar dia. Sektor ini akan kembali terpukul di kuartal tiga.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman bilang, perlambatan industri manufaktur tak bisa lepas dari pelemahan ekonomi global. “Ada perubahan pola dagang global ke arah percepatan yang luar biasa,” katanya. Untuk bertahan, produsen harus bisa menyesuaikan perubahan pasar. “Kuncinya speed to the market penetration, baik produsen maupun pelayanan pemerintahnya,” kata Ade.

Sumber : Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: